CelotehCarpe Diem

Carpe Diem

-

- Advertisment -spot_img

Ada hari-hari yang terbuang, ada janji-janji yang mungkin tertunda atau terlupakan, ada juga mimpi yang disimpan rapi menunggu “nanti”. Tetapi siapakah yang benar-benar tahu tentang “nanti”? Sangat boleh jadi, masa depan hanya berdiri sebagai bayangan, sebagai sesuatu samar, atau belum tentu datang. Yang pasti ada hanya detik ini. Napas ini, langkah yang sedang berjejak di bumi ini.

“Carpe diem,” begitu teriak Horatius dua ribu tahun lalu. Ini bukan sekadar ajakan untuk berpesta atau menghabiskan waktu di hiburan malam, melainkan seruan halus, “jangan biarkan hidup ini lewat begitu saja”!

Raihlah hari ini, bukan esok! Esok mungkin hadir, mungkin juga lenyap sebelum sempat kita gapai.

Meraih hari ini berarti menaruh perhatian penuh pada apa yang ada di hadapan, saat ini. Mungkin merasakan udara pagi yang menyentuh kulit. Mungkin melihat peluh yang membasahi wajah seorang. Seolah, ada kebijaksanaan sederhana di sana, bahwa hidup tidak sedang menunggu kita di ujung jalan, ia sedang berlangsung di sini, dalam kesementaraan yang mungkin saja rapuh.

Carpe diem tidak bermaksud menolak rencana atau mengabaikan masa depan. Ia hanya mengingatkan: jangan biarkan kita begitu sibuk menata hari esok, hingga lupa menyentuh indahnya hari ini, pagi yang indah ini. Sebab barangkali, justru di sinilah makna itu berdiam, dalam ayunan langkah, dalam suasana pagi yang menusuk kulit, dalam keberanian untuk tidak menunda sekalipun tarikan nafas semakin berat di dada. Hehe….

Tabik.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Refleksi 79 Tahun Pengabdian

Sepemahaman saya, Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar penanda usia organisasi, atau sekedar bilangan yang datang...

Mi’raj

“Nabi naik ke langit untuk menerima perintah shalat, agar manusia tahu: jalan ke Tuhan tidak jauh, ia dimulai dari...

Jalan yang Tak Terlihat

“Sebagian orang menemukan Tuhan di kedalaman dosanya, sementara sebagian yang lain justru kehilangan-Nya di puncak kenikmatannya.” — Syams Tabriz Kalimat...

Dari Cahaya Teks ke Jalan Realitas: Menimbang Kembali Arah Gerak Muhammadiyah

113. Bukan sekadar penanda usia sebuah organisasi, tetapi ia jejak panjang kesadaran moral yang terus tumbuh di tubuh bangsa....
- Advertisement -spot_imgspot_img

Subjectivity is Truth: Renungan Mendalam atas Eksistensialisme Kierkegaard

Soren Aabye Kierkegaard (5 Mei 1813 – 11 November 1855) sering dibayangkan sebagai sosok yang berjalan sendirian di jalan-jalan...

Ziarah Sunyi Menuju Hati

“Kucari Tuhan di kuil, Gereja dan Mesjid, aku menemukan-Nya dalam hatiku.” Pernyataan yang konon diasalkan kepada Rumi ini tampaknya...

Must read

Refleksi 79 Tahun Pengabdian

Sepemahaman saya, Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)...

Mi’raj

“Nabi naik ke langit untuk menerima perintah shalat, agar...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you