CelotehPada Suatu Pagi

Pada Suatu Pagi

-

Seusai sahur, setelah sholat subuh, saya “memaksakan” diri berjalan kaki. Menikmati pagi. Mengkhidmati tarikan nafas yang masih diamanatkan Tuhan. Memasrahkan tubuh untuk didekap hawa dingin yang masih murni.

Bukan mengimani adagium “mens sana in corpore sano”, bukan!  Sekadar menakar apakah kaki masih teguh memangku tubuh? Atau, apakah jalan menanjak tidak memberikan kesulitan kepada kayuhan? Ini saja.

Sepanjang jalan, pikiran malah mengembara pada berita dan informasi yang berdesakan mampir di kepala. Tentang kejahatan akibat bahan bakar yang dioplos. Derita rakyat karena banjir dan longsor.  Ratapan para penjual pakaian yang hilang harapan akibat luapan air. Atraksi Kang Dedi Mulyadi yang menertibkan bangunan yang mengganggu resapan air. Atau, Nikita Mirjani yang akhirnya ditahan.

“Indonesia gelap” seperti dibenarkan oleh berita-berita ini.

Kebenaran, kejujuran juga keadilan sedang dipertaruhkan akhir-akhir ini. Kata-kata bijaksana. Petatah-petitih para penyeru kebajikan seakan membentur tembok baja. Sungguh! Seluruh omongan yang benar dan perkataan yang baik seakan tak memiliki tenaga dan kehilangan kekuatannya.

Nurani adalah suara jiwa, nafsu-nafsu adalah suara tubuh”, begitu kata Rousseau. Nafsu tubuh adalah situasi hari ini. Kejahatan begitu terorganisir dilakukan. Langit ibu pertiwi seakan pekat oleh awan hitam akibat perilaku tangan-tangan durjana, serakah, korup dan culas. Indonesia gelap?

Suara motor mengagetkan saya. Hai! Bukankah ini bulan Ramadan? Fokus saja pada puasamu. Jangan sok berpikir besar dan peduli seakan kehidupan harus seturut dengan maumu! Sebuah suara mengingatkan.

Keringat berdesakan keluar dari pori. Lalu Langkah semakin lambat dan terpatah-patah.

Jangan hanya menahan makanan dari mulutmu, tetapi juga jauhkan racun dari hatimu.” Rumi benar, apa yang terlintas di pikiran juga mungkin seluruh berita yang mampir di kepala adalah “racun” yang bisa menodai puasa saya. Puasa adalah laku spiritual. Sebuah polah suci untuk belajar menahan diri dari pikiran negatif, amarah, dan kebencian.

Puasa bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga tentang belajar melepaskan—melepaskan keterikatan pada dunia, pada keinginan yang berlebihan, dan pada ilusi kendali atas segala sesuatu. “Seperti bulan yang tumbuh dari sabit menjadi purnama,
kesabaranmu dalam puasa akan membawamu pada cahaya yang sempurna.” Begitu Rumi menasehati.

Jarum jam persis menunjuk di angka 9. Saya kaget, lupa belum finger print. Jangankan berani melepas keterikatan pada dunia, pada kepatuhan absenpun saya masih harus setia.

Ampun pemerintah!

Previous article
Next article

Latest news

Refleksi 79 Tahun Pengabdian

Sepemahaman saya, Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar penanda usia organisasi, atau sekedar bilangan yang datang...

Mi’raj

“Nabi naik ke langit untuk menerima perintah shalat, agar manusia tahu: jalan ke Tuhan tidak jauh, ia dimulai dari...

Jalan yang Tak Terlihat

“Sebagian orang menemukan Tuhan di kedalaman dosanya, sementara sebagian yang lain justru kehilangan-Nya di puncak kenikmatannya.” — Syams Tabriz Kalimat...

Dari Cahaya Teks ke Jalan Realitas: Menimbang Kembali Arah Gerak Muhammadiyah

113. Bukan sekadar penanda usia sebuah organisasi, tetapi ia jejak panjang kesadaran moral yang terus tumbuh di tubuh bangsa....

Subjectivity is Truth: Renungan Mendalam atas Eksistensialisme Kierkegaard

Soren Aabye Kierkegaard (5 Mei 1813 – 11 November 1855) sering dibayangkan sebagai sosok yang berjalan sendirian di jalan-jalan...

Ziarah Sunyi Menuju Hati

“Kucari Tuhan di kuil, Gereja dan Mesjid, aku menemukan-Nya dalam hatiku.” Pernyataan yang konon diasalkan kepada Rumi ini tampaknya...

You might also likeRELATED
Recommended to you