RefleksiPerempuan yang Menolak Diam

Perempuan yang Menolak Diam

-

- Advertisment -spot_img

Kartini. Setiap tahun kita peringati kelahiran juga perjuangannya. Begitu juga cara berpakaian kebaya yang dikenakannya.

Kartini. Namanya lekat dengan nama jalan, nama yayasan, nama sekolah, atau nama sebuah upacara. Tapi di balik nama itu, tersimpan jiwa yang gelisah. Yang tak sudi menerima nasib begitu saja. Yang bertanya pada dirinya sendiri, mengapa perempuan tidak boleh bermimpi? Mengapa perempuan, seperti dirinya, hanya disiapkan untuk menjadi istri yang patuh dan ibu yang tak boleh bersuara?

Ditakdirkan oleh sejarah, Kartini tumbuh menjadi seorang perempuan muda yang memilih untuk tidak diam. Dari tuturan sejarah kita tahu, Ia tak menggenggam senjata, tak juga memimpin barisan perang, tetapi ia menulis, dan dengan menulis itulah ia melawan.

Dalam gelap, Kartini menemukan terang. Bukan dari jendela kamarnya, tapi dari lembaran surat. Dari gagasan yang datang jauh dari Eropa. Dari wacana yang membicarakan kemajuan, akal budi, dan keadilan. Kartini sadar, tak seluruh yang datang dari luar itu baik. Tapi Kartini pun pun mengerti, tak semua yang diwariskan dari dalam itu suci.

Pandangan Kartini tentang perempuan bukan sekadar soal kebebasan belajar atau pergi ke sekolah. Bukan hanya soal membuka pintu gerbang pendidikan. Lebih dari itu, ia bicara tentang martabat. Tentang bagaimana perempuan harus dihormati bukan karena ia istri siapa atau anak siapa, tapi karena ia manusia.

Bagi Kartini, perempuan tak dilahirkan hanya untuk mengisi peran orang lain. Ia punya hak untuk berpikir, merasa, memilih. Ia punya hak untuk menolak dipingit, bukan hanya tubuhnya tapi juga pikirannya. Ia punya hak untuk mengajukan pertanyaan, meski seluruh dunia hanya menawarkan diam.

Kartini tahu, perjuangannya tak akan tuntas dalam satu generasi. Maka ia menulis untuk masa depan yang melampaui jamannya. Ia menulis untuk mereka yang belum lahir, agar jangan berkompromi apalagi diam pada ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang mengatasnamakan tradisi. Agar kita tak mengaguminya sebagai simbol semata, tapi memahami keresahan dan kegelisahannya sebagai warisan yang menunggu untuk terus dihidupkan.

Kartini telah lama pergi. Tapi pertanyaannya masih tinggal bersama kita: sampai kapan perempuan harus meminta izin untuk menjadi dirinya sendiri? Allahu a’lam[]

Tabik.

Previous article
Next article

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Refleksi 79 Tahun Pengabdian

Sepemahaman saya, Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar penanda usia organisasi, atau sekedar bilangan yang datang...

Mi’raj

“Nabi naik ke langit untuk menerima perintah shalat, agar manusia tahu: jalan ke Tuhan tidak jauh, ia dimulai dari...

Jalan yang Tak Terlihat

“Sebagian orang menemukan Tuhan di kedalaman dosanya, sementara sebagian yang lain justru kehilangan-Nya di puncak kenikmatannya.” — Syams Tabriz Kalimat...

Dari Cahaya Teks ke Jalan Realitas: Menimbang Kembali Arah Gerak Muhammadiyah

113. Bukan sekadar penanda usia sebuah organisasi, tetapi ia jejak panjang kesadaran moral yang terus tumbuh di tubuh bangsa....
- Advertisement -spot_imgspot_img

Subjectivity is Truth: Renungan Mendalam atas Eksistensialisme Kierkegaard

Soren Aabye Kierkegaard (5 Mei 1813 – 11 November 1855) sering dibayangkan sebagai sosok yang berjalan sendirian di jalan-jalan...

Ziarah Sunyi Menuju Hati

“Kucari Tuhan di kuil, Gereja dan Mesjid, aku menemukan-Nya dalam hatiku.” Pernyataan yang konon diasalkan kepada Rumi ini tampaknya...

Must read

Refleksi 79 Tahun Pengabdian

Sepemahaman saya, Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)...

Mi’raj

“Nabi naik ke langit untuk menerima perintah shalat, agar...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you