
Ada hari-hari yang terbuang, ada janji-janji yang mungkin tertunda atau terlupakan, ada juga mimpi yang disimpan rapi menunggu “nanti”. Tetapi siapakah yang benar-benar tahu tentang “nanti”? Sangat boleh jadi, masa depan hanya berdiri sebagai bayangan, sebagai sesuatu samar, atau belum tentu datang. Yang pasti ada hanya detik ini. Napas ini, langkah yang sedang berjejak di bumi ini.
“Carpe diem,” begitu teriak Horatius dua ribu tahun lalu. Ini bukan sekadar ajakan untuk berpesta atau menghabiskan waktu di hiburan malam, melainkan seruan halus, “jangan biarkan hidup ini lewat begitu saja”!
Raihlah hari ini, bukan esok! Esok mungkin hadir, mungkin juga lenyap sebelum sempat kita gapai.
Meraih hari ini berarti menaruh perhatian penuh pada apa yang ada di hadapan, saat ini. Mungkin merasakan udara pagi yang menyentuh kulit. Mungkin melihat peluh yang membasahi wajah seorang. Seolah, ada kebijaksanaan sederhana di sana, bahwa hidup tidak sedang menunggu kita di ujung jalan, ia sedang berlangsung di sini, dalam kesementaraan yang mungkin saja rapuh.
Carpe diem tidak bermaksud menolak rencana atau mengabaikan masa depan. Ia hanya mengingatkan: jangan biarkan kita begitu sibuk menata hari esok, hingga lupa menyentuh indahnya hari ini, pagi yang indah ini. Sebab barangkali, justru di sinilah makna itu berdiam, dalam ayunan langkah, dalam suasana pagi yang menusuk kulit, dalam keberanian untuk tidak menunda sekalipun tarikan nafas semakin berat di dada. Hehe….
Tabik.[]






