RefleksiFlatus Vocis

Flatus Vocis

-

- Advertisment -spot_img

“Sebuah kekeliruan makin berbahaya, jika ia makin banyak mengandung kebenaran” (Henri Amiel)

Panggung sejarah manusia adalah tontonan tentang bagaimana kebenaran dicari dan dirumuskan. Kebenaran menjadi magnet yang menyedot perhatian setiap orang atau kelompok untuk ditemukan dan dimampatkan baik dalam teori, keyakinan, ataupun ideologi. Tak jarang, kebenaran juga menjadi semacam ukuran untuk membuat batas pembeda antara kami dan mereka, antara yang ontentik dan palsu. Antara aku dan liyan.

Kebenaran telah menjadi inspirasi untuk melahirkan beragam teori dan sudut pandang. Para pilsuf, teolog, ideolog bahkan para demagog “berlomba-lomba” membuat batas dan menderetkan makna tentang apa itu kebenaran. Suatu disebut benar jika ia berkorespondensi dengan kenyataan, inilah teori korespondensi. Suatu disebut benar jika ia memiliki nilai guna (cash value), inilah kebenaran pragmatis. Suatu disebut benar jika ia sesuai dengan jaringan komprehensif dari pernyataan-pernyataan yang berhubungan secara logis, inilah teori koherensi.

Ya, kebenaran banyak macamnya. Ia seumpama entitas hidup yang bisa bermutasi kedalam rupa dan corak yang beraneka.

Dalam kehidupan kita hari ini, media social adalah tempat subur bagi berternaknya kebenaran. Ada banyak macam istilah yang ditampilkan namun sejatinya menunjuk pada pengertian yang sama, yaitu kebenaran. Perhatikan istilah “kehendak rakyat”, “opini public” ataupun kalimat “sesuai konstitusi”.

Sayangnya, di tangan para politisi, ketiga pernyataan tentang makna kebenaran di atas lebih sering dipakai sebagai alat justifikasi saja. Tak jarang, ketiga kalimat kebenaran di atas hanya digunakan dan diartikan sesuai selera dan “hawa nafsu” pengucapnya. Di era “pasca kebenaran” yang serba fungsionalistis, kata benar atau kebenaran bahkan kebohongan sering berubah bentuk menjadi sekadar “flatus vocis” (suara kentut).

Sejarah telah mengisahkanya bagaimana rezim Hitler bangkit menjadi kekuatan politik melalui kebohongan, atau lebih tepatnya, kebohongan terorgnisasi yang terkesan benar. Tengok juga tehnik serupa yang dipertontonkan Trump dalam kampanye presiden Amerika Serikat. Bahkan Kellner menyebut Trump sebagai “pembohong terbesar dalam sejarah kepresidenan AS modern”.

Hitler juga Trump adalah dua sosok manusia dalam sejarah yang menggunakan kebenaran hanya sebagai daya pikat saja. Menggunakan kebenaran untuk membangkitkan sentiment kolektif dan meremehkan fakta.

“Kopi ini memikat saya” adalah pernyataan yang mengandung kebenaran buat saya. Sebab pagi ini, ketika kantuk masih menyerang dan rutinitas tugas menuntut untuk ditunaikan, kebenaran kopi bagi saya adalah nyata dan fakta. Ia tidak hanya membangkitkan semangat tapi juga menjadi pemantik kehendak untuk menyempurnakannya dengan hisapan sebatang rokok.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

(Bukan) Paling Benar, (tetapi) Paling Bermanfaat

“Orang yang paling baik bukanlah orang yang paling benar, melainkan orang yang paling banyak manfaatnya,” begitu pernyataan sebuah kutipan...

Refleksi 79 Tahun Pengabdian

Sepemahaman saya, Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar penanda usia organisasi, atau sekedar bilangan yang datang...

Mi’raj

“Nabi naik ke langit untuk menerima perintah shalat, agar manusia tahu: jalan ke Tuhan tidak jauh, ia dimulai dari...

Jalan yang Tak Terlihat

“Sebagian orang menemukan Tuhan di kedalaman dosanya, sementara sebagian yang lain justru kehilangan-Nya di puncak kenikmatannya.” — Syams Tabriz Kalimat...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Dari Cahaya Teks ke Jalan Realitas: Menimbang Kembali Arah Gerak Muhammadiyah

113. Bukan sekadar penanda usia sebuah organisasi, tetapi ia jejak panjang kesadaran moral yang terus tumbuh di tubuh bangsa....

Subjectivity is Truth: Renungan Mendalam atas Eksistensialisme Kierkegaard

Soren Aabye Kierkegaard (5 Mei 1813 – 11 November 1855) sering dibayangkan sebagai sosok yang berjalan sendirian di jalan-jalan...

Must read

(Bukan) Paling Benar, (tetapi) Paling Bermanfaat

“Orang yang paling baik bukanlah orang yang paling benar,...

Refleksi 79 Tahun Pengabdian

Sepemahaman saya, Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you