Hikmah(Bukan) Paling Benar, (tetapi) Paling Bermanfaat

(Bukan) Paling Benar, (tetapi) Paling Bermanfaat

-

- Advertisment -spot_img

Orang yang paling baik bukanlah orang yang paling benar, melainkan orang yang paling banyak manfaatnya,” begitu pernyataan sebuah kutipan yang saya temukan.

Menelisik pernyataan ini, paling tidak bagi saya, ia seumpama teguran pelan pada hasrat yang kerap tersembunyi atau disembunyikan, yaitu hasrat untuk menang dalam obrolan bahkan dalam perdebatan. Untuk diakui sebagai yang paling lurus, paling tahu, paling benar. Padahal, seturut dengan pernyataan di atas, sepemahaman saya, kebenaran yang tidak menjelma menjadi manfaat sering kali hanya menjadi beban ego yang berat, bukan cahaya yang menerangi bahkan menuntun.

Senyatanya, dalam hidup yang kita jalani, kita kerap terjebak pada perlombaan membuktikan siapa yang paling hebat, siapa yang paling benar. Kita menukil dalil, mengutip ayat, menyodorkan argumen, dan pembenaran, lalu menjadikannya menara tinggi tempat kita memandang rendah orang lain sebagai tidak tahu, tidak mengerti.

Sangat boleh jadi, kebenaran yang sejati tidak sibuk menunjuk diri sendiri. Mungkin saja, ia bekerja dalam diam, menjelma sebagai keteduhan, kemudahan, dan kehadiran yang menenangkan bagi sesama. Seorang sufi, konon, pernah mengingatkan bahwa nilai seseorang di hadapan Tuhan bukan diukur dari seberapa tajam lisannya, seberapa canggih argumen yang dipakai untuk menopang kata-katanya, melainkan seberapa luas kebermanfaatan dan rahmat yang mengalir melalui dirinya.

Dikisahkan, Ibnu ‘Athaillah menegaskan makna ini dalam Hikamnya: “Amal yang paling utama adalah yang paling ikhlas dan paling bermanfaat.” Ikhlas membuat amal itu ringan bagi pelakunya, dan manfaat membuatnya hidup bagi orang lain.

Manfaat adalah wujud kasih sayang yang paling nyata. Ia tidak selalu lahir dari orang yang menang debat atau unggul pengetahuan, tetapi sering datang dari mereka yang bersedia mendengar, mengerti, dan hadir. Dalam manfaat, kebenaran menemukan rumahnya, bukan sebagai klaim, melainkan sebagai pelayanan. Tentang ini, Jalaluddin Rumi berkata dengan nada yang lembut namun menghunjam, “di luar gagasan benar dan salah, ada sebuah taman. Di sanalah aku akan menemuimu.”

Taman, yang disebut Rumi, mungkin adalah metafor, sebuah amsal tentang ruang kemanusiaan, tempat kebenaran tidak saling melukai, saling menista, tetapi saling menjaga dan menghidupi. Menjadi bermanfaat, saya kira, menuntut kerendahan hati, yaitu mengakui bahwa kebenaran kita mungkin benar, tetapi belum tentu merekatkan atau menyembuhkan. Orang yang bermanfaat rela menanggalkan sebagian “kebenaran”-nya demi keutuhan relasi dan harmoni, demi terjaganya hati orang lain. Ia tidak kehilangan apa-apa, justru menemukan kedalaman makna hidup.

Bahkan Al-Ghazali, suatu ketika, dari sebuah hikayat yang saya baca, mengingatkan bahwa ilmu dan kebenaran yang tidak melahirkan amal dan maslahat hanyalah “hujjah” yang kelak menuntut pemiliknya. Kebenaran sejati selalu menuntun pada perbaikan diri dan lingkungan, bukan sekadar kepuasan intelektual.

Maka, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan setiap hari bukanlah, “apakah aku paling benar?” melainkan, “apakah kehadiranku membawa kebaikan?” Sebab di hadapan Tuhan dan sesama, kebaikan sering kali lebih terasa daripada kebenaran yang dipaksakan. Dan pada akhirnya, manusia akan lebih lama mengingat manfaat yang ia terima, daripada argumen yang pernah mengalahkannya. Allahu a’lam.[]

Previous article
Next article

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

“The Nones”: Pencarian terhadap yang Sakral di Era Digital

Tahun 1882, Friedrich Nietzsche melalui tokoh “orang gila” dalam The Gay Science melontarkan sebuah kalimat yang mengguncang panggung sejarah...

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS, 2026). Ia hadir diam-diam di tengah keramaian, menyusup ke dalam...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain legendaris yang memenangkan trofi. Namun barangkali, hanya segelintir manusia dalam...

LEO

Di bawah langit Kansas City, barangkali kita tidak sedang menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola biasa, kita sedang mengkhidmati babak-babak...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Humata, Hukhta, Hvarstha

Barangkali tragedi terbesar manusia bukanlah bahwa ia hidup di dunia yang gelap, melainkan bahwa ia sering kehilangan arah pulang...

Menakar Ketinggian dari Kedalaman Akar

Dalam Thus Spoke Zarathustra (Demikianlah Zarathustra Bersabda), Nietzsche menulis aforisma tentang sebuah perumpamaan yang tajam tentang kejujuran yang mungkin...

Must read

“The Nones”: Pencarian terhadap yang Sakral di Era Digital

Tahun 1882, Friedrich Nietzsche melalui tokoh “orang gila” dalam...

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS,...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you