
Dalam Thus Spoke Zarathustra (Demikianlah Zarathustra Bersabda), Nietzsche menulis aforisma tentang sebuah perumpamaan yang tajam tentang kejujuran yang mungkin terasa pahit. “Manusia, sama halnya dengan pohon. Semakin dia ingin naik, semakin banyak akar-akarnya yang berusaha masuk ke bawah, yakni ke dalam kegelapan, ke dalam kejahatan,” begitu katanya.
Di era modern yang mengagungkan manifestasi positif, pencapaian instan, dan obsesi pada kesucian moral, kalimat yang dilontarkan Nietzsche ini bisa terdengar sebagai bentuk provokasi. Kita sering kali mendikte pertumbuhan sebagai sebuah gerak linier yang nyaman, sebuah perjalanan satu arah dari ruang gelap bernama kebodohan menuju ruang terang benderang bernama kesempurnaan. Namun, lewat metafora pohon ini, Nietzsche menyangkal ilusi tersebut. Ia lalu mengingatkan bahwa menjadi “lebih” tidak pernah menjadi proses yang sepihak. Setiap jengkal dahan yang meraba langit selalu menuntut tebusan berupa jengkal akar yang harus menghujam ke dalam pekat dan gelapnya tanah.
Tampaknya, Nietzsche sengaja menggunakan kata yang provokatif: “kegelapan” dan “kejahatan”. Bagi nalar publik yang terbiasa berpikir hitam-putih, kata-kata ini adalah musuh yang harus dihindari bahkan dimusnahkan. Kita diajari untuk membersihkan akar-akar batin yang tampak liar, seperti hasrat untuk berkuasa, ego yang menuntut pengakuan, amarah, hingga kecemburuan, dan berpura-pura bahwa kita bisa tumbuh tinggi hanya dengan bermodalkan nasihat dan norma-norma kebajikan.
Namun, filsafat Nietzsche adalah “filsafat palu” yang menghancurkan selubung kepura-puraan. Baginya, moralitas yang menuntut manusia memotong insting liarnya demi terlihat suci adalah moralitas yang mengebiri kehidupan itu sendiri. Pohon yang akarnya dipotong agar tidak menyentuh tanah yang kotor tidak akan pernah menjadi pohon yang megah, ia hanya akan menjadi tanaman hias yang kerdil dan rapuh.
Saya meyakini, ada hukum keseimbangan psikologis sekaligus eksistensial di sini. Apa yang kita sebut sebagai “sisi gelap” sesungguhnya adalah tangki bahan bakar dari energi vital manusia. Dorongan untuk melampaui sesama, keberanian untuk meruntuhkan tatanan lama yang sudah usang dan kolot, hingga pemberontakan terhadap dogma, sering kali lahir dari bagian diri yang dianggap “buruk” oleh massa.
Bagi Nietzsche, sejarah tidak pernah digerakkan oleh orang-orang yang sepenuhnya jinak. Sejarah diukir oleh mereka yang mampu mengambil keliaran batinnya, menjinakkan energinya, lalu menyublimasikannya menjadi karya seni yang agung, pemikiran yang mendobrak zaman, atau tindakan yang mengubah arah sejarah.
Sungguh, tulisan yang singkat dan replektif ini tidak sedang merayakan bahkan menyerukan kejahatan dalam arti kriminalitas yang destruktif. Yang saya pahami dari kutipan di atas, Nietzsche sedang membicarakan kedalaman. Menjadi manusia yang matang berarti memiliki kapasitas untuk mengenali kontradiksi di dalam diri sendiri.
Yang paling berbahaya dalam hidup bukanlah monster yang kita ketahui keberadaannya di kedalaman batin kita, melainkan monster yang kita sangkal keberadaannya. Ketika manusia menolak melihat sisi gelapnya sendiri, energi itu tidak hilang; ia mengendap, membusuk, dan sewaktu-waktu akan meledak dalam bentuk neurosis, kemunafikan yang akut, atau tindakan destruktif yang buta.
Sebaliknya, manusia yang menatap akarnya sendiri dengan jujur akan menemukan ketabahan yang luar biasa. Ia sadar bahwa untuk menanggung beban badai di ketinggian. Untuk menjadi pemimpin, pencipta, atau pemikir bebas, ia memerlukan cengkeraman bawah tanah yang sangat kuat. Ia tidak lagi rapuh oleh kritik, tidak lagi mudah goyah oleh rasa takut, karena ia sudah terbiasa berdialog dengan bagian paling sunyi dan paling mengerikan dari dirinya sendiri.
Pada akhirnya, kebijaksanaan sejati, barangkali, bukanlah tentang bagaimana cara kita menghapus bayang-bayang, melainkan bagaimana kita berjalan bersama bayang-bayang itu menuju cahaya. Manusia yang utuh bukanlah manusia yang berhasil menjadi malaikat yang steril dari dosa, atau menjadi orang saleh yang terhindar dari berbuat salah, melainkan manusia yang seperti pohon kokoh di tengah hutan, berani menghirup nutrisi dari tanah yang paling kelam, merajutnya di dalam kegelapan, lalu mengubahnya menjadi dedaunan hijau yang menyapa matahari. Tumbuh berarti siap menanggung beban dari akar yang semakin dalam dan pucuk yang semakin tinggi. Sebuah pertumbuhan yang menuntut ketabahan, bukan kenyamanan.[]






