RefleksiUberwinden

Uberwinden

-

- Advertisment -spot_img

Dalam arus pemikiran Nietzsche, sejauh saya memahaminya, hidup tidak pernah hadir sebagai sebuah telaga yang tenang. Diibaratkan, hidup adalah api yang menjilat ke atas. Sebuah kegelisahan purba yang menolak untuk dipadamkan.

Dari titik inilah, Nietzsche memperkenalkan “Uberwinden”. Tentang  Uberwinden, atau upaya “mengatasi diri”, kita tidak boleh terjebak dalam dikotomi moral yang sempit, lalu menganggapnya sebagai bentuk asketisme atau penyiksaan diri demi mencapai kesucian batin. Bukan!

Uberwinden sebagaimana dimaksud Nietzsche adalah antitesis dari pengingkaran diri. Ia bukanlah tindakan mematikan hasrat, melainkan sebuah afirmasi radikal terhadap daya hidup yang paling murni.

​Dalam kerangka Uberwinden, hakikat hidup memiliki tendensi untuk “menaik”. Ia adalah sebuah gerak yang tidak sudi untuk sekadar mengulang. Jika kita mengamati alam, kita melihat bahwa hidup selalu berusaha untuk melampaui keterbatasannya sendiri. Namun, Nietzsche mengingatkan bahwa gerak ini bukanlah linear yang datar, bukan pula siklus gelombang yang selalu kembali ke titik nol setelah mencapai puncak.

​Hidup adalah lesus, sebuah spiral yang tumbuh dari dasar tanah, berputar dengan daya penghancur sekaligus pencipta, dan terus meninggi. Di setiap titik yang diraihnya, ia tidak menemukan kepuasan yang statis. Sebaliknya, setiap pencapaian hanyalah pijakan untuk kerinduan yang lebih tinggi.

Inilah esensi dari Kehendak untuk Berkuasa (der Wille zur Macht). Berkuasa di sini bukanlah tentang menindas yang lain di bawah tumit sepatu kita, melainkan tentang kedaulatan penuh atas diri sendiri. Kekuatan untuk menjadi “tuan” bagi insting dan takdir kita sendiri.

Namun demikian, manusia tidak hidup di ruang hampa. Kita lahir dalam jaring-jaring norma, perintah, dan seruan normatif yang sering kali bersifat “menurunkan” atau “menjinakkan”. Masyarakat, dalam upaya menjaga stabilitasnya, cenderung mempromosikan nilai-nilai yang memuja ketenteraman, kepatuhan, dan keseragaman. Inilah yang oleh Nietzsche disebut sebagai moralitas kawanan, sebuah sistem yang merasa terancam oleh kehadiran “lesus” individu yang ingin tumbuh terlalu tinggi.

Di sinilah letak tragedi sekaligus kemuliaan manusia. Kita dituntut untuk patuh, untuk menjadi jinak, dan untuk meredam kegelisahan kreatif kita demi harmoni sosial. Norma sering kali bertindak sebagai penawar rasa sakit yang membuat kita merasa “tenteram” dalam stagnasi. Namun, bagi jiwa yang memiliki kehendak untuk berkuasa, ketenteraman semacam itu adalah kematian yang tertunda. Keharusan meraih kebebasan muncul sebagai panggilan untuk tidak membiarkan diri kita “menguap” dalam tuntutan kolektif.

Meraih kebebasan di tengah kepatuhan normatif tidak berarti menjadi seorang kriminal atau pemberontak tanpa arah. Kebebasan sejati adalah kemampuan untuk mengatasi (overcoming) norma-norma tersebut tanpa harus hancur olehnya. Ia adalah kemampuan untuk menyerap nilai-nilai luar, mengolahnya dalam “perut” eksistensi kita, dan melahirkannya kembali sebagai nilai yang personal dan otentik.

Kebebasan adalah keberanian untuk mengakui bahwa batin kita memang tidak pernah tenteram, karena ia selalu ingin “lebih”. Menjadi manusia yang melampaui (Ubermensch) berarti memahami bahwa kegelisahan bukanlah penyakit, melainkan bukti bahwa kita masih hidup dan sedang bergerak menaik.

Pada akhirnya, hidup yang bermakna adalah hidup yang berani membiarkan dirinya ditarik oleh pusaran lesus internalnya sendiri. Di tengah dunia yang menuntut kita untuk sujud dan patuh, Überwinden adalah tegak berdirinya jiwa seraya berkata: “Aku akan terus mendaki, melampaui diriku yang kemarin, karena di tempat aku meraih sekarang, aku telah melihat cakrawala yang lebih tinggi lagi.”

Allahu a’lam.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS, 2026). Ia hadir diam-diam di tengah keramaian, menyusup ke dalam...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain legendaris yang memenangkan trofi. Namun barangkali, hanya segelintir manusia dalam...

LEO

Di bawah langit Kansas City, barangkali kita tidak sedang menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola biasa, kita sedang mengkhidmati babak-babak...

Humata, Hukhta, Hvarstha

Barangkali tragedi terbesar manusia bukanlah bahwa ia hidup di dunia yang gelap, melainkan bahwa ia sering kehilangan arah pulang...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Menakar Ketinggian dari Kedalaman Akar

Dalam Thus Spoke Zarathustra (Demikianlah Zarathustra Bersabda), Nietzsche menulis aforisma tentang sebuah perumpamaan yang tajam tentang kejujuran yang mungkin...

Derrida: Menemukan Kebenaran yang Tak Pernah Selesai

Di antara para filsuf abad ke-20, mungkin tidak banyak pemikir yang sering disalahpahami sekaligus berpengaruh seperti Jacques Derrida. Dalam...

Must read

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS,...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you