RefleksiKhamenei (2)

Khamenei (2)

-

- Advertisment -spot_img

Syahidnya Ali Khamenei tak serta merta melumpuhkan perlawanan Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel. Iran adalah peradaban panjang, sepanjang daya tahan mereka melawan embargo, tekanan, dan hegemoni Barat.

Perlawanan dalam sejarah Iran tidak pernah berdiri di atas satu tubuh, betapapun kuat dan karismatiknya tubuh itu. Ia berdiri di atas kesadaran kolektif yang ditempa oleh sejarah yang panjang: dari kejayaan Persia kuno, luka kolonialisme modern, hingga gelombang spiritual yang meledak dalam Revolusi Iran 1979. Dalam kesadaran itu, kepemimpinan hanyalah satu simpul dari jaringan keyakinan yang jauh lebih luas. Ketika satu simpul terputus, jaringan itu tidak runtuh, ia justru menguat karena kesadaran tentang harga yang harus dibayar untuk mempertahankan martabat.

Bagi bangsa Iran, syahidnya Ali Khamenei bukanlah akhir cerita, melainkan bab lain dari narasi panjang tentang keteguhan. Tradisi Syiah sendiri menanamkan sebuah memori spiritual yang sangat kuat tentang makna pengorbanan. Tragedi Pertempuran Karbala, yang menewaskan Husain bin Ali, tidak pernah dipahami sebagai kekalahan, sebaliknya ia justru menjadi sumber energi moral yang terus menghidupkan keberanian melawan ketidakadilan. Dalam kerangka spiritual inilah, kematian seorang pemimpin seringkali menjelma menjadi bahan bakar baru bagi perlawanan.

Pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pernah menegaskan dengan kalimat yang kemudian menjadi semacam credo bagi revolusi: “Bangsa yang memiliki syahadah tidak akan pernah kalah.” Dalam pandangan Khomeini, darah para syuhada bukanlah tanda berakhirnya perjuangan, melainkan tanda bahwa perjuangan itu memiliki akar spiritual yang tidak dapat dihancurkan oleh kekuatan militer atau tekanan ekonomi.

Pandangan serupa bergema pula dalam pernyataan Qasem Soleimani, salah satu figur militer paling berpengaruh di Iran,  “Kami adalah bangsa syahid; kematian bagi kami bukanlah akhir, melainkan kelahiran kembali dari perlawanan.” Pernyataan ini bukan sekadar retorika militer. Ia mencerminkan mentalitas politik dan spiritual yang membentuk cara pandang bangsa Iran dalam menghadapi konflik: bahwa kehilangan seorang tokoh tidak berarti kehilangan arah. Bahwa wafatnya panutan tidak lantas kehilangan kompas.

Bahkan dalam konteks negara modern, para pemimpin Iran sering menekankan bahwa kekuatan mereka bukan semata-mata pada teknologi militer atau kekuatan ekonomi, melainkan pada daya tahan peradaban. “Tekanan ekonomi dapat melemahkan tubuh sebuah bangsa, tetapi iman dan kehendak tidak dapat diblokade,” begitu kata Ali Khamenei. Kalimat penuh magis ini menggambarkan bagaimana embargo dan tekanan Barat justru sering dipersepsikan sebagai ujian yang menguatkan solidaritas internal masyarakat Iran.

Karena itu, jika hari ini Ali Khamenei gugur, Iran tidak melihatnya sebagai kehilangan yang melumpuhkan. Sebaliknya, ia menjadi simbol bahwa perjuangan itu nyata dan memiliki harga yang mahal. Dalam budaya politik yang dibentuk oleh narasi syahadah, kematian seorang pemimpin seringkali melahirkan figur-figur baru yang merasa terpanggil untuk melanjutkan jejaknya, untuk meneruskan perjuangannya.

Sejarah Iran menunjukkan bahwa bangsa ini berkali-kali bangkit dari tekanan yang tampaknya tak tertahankan. Dari sanksi ekonomi, isolasi politik, hingga ancaman militer, semuanya telah menjadi bagian dari ujian panjang yang justru memperkuat identitas mereka sebagai bangsa yang menolak tunduk. Dalam kesadaran seperti itu, seorang tokoh boleh gugur, tetapi gagasannya tidak akan pernah mati.

Maka, syahidnya seorang pemimpin hanyalah satu episode dalam kisah panjang sebuah bangsa yang memandang martabat sebagai sesuatu yang lebih mahal daripada kenyamanan. Dari rahim sejarah yang panjang itu, singa-singa baru akan terus lahir, bukan semata-mata karena ambisi kekuasaan, tetapi karena keyakinan bahwa kehormatan sebuah bangsa tidak boleh diwariskan dalam keadaan tunduk dan takluk begitu saja.

Dan selama keyakinan itu masih hidup di dada rakyatnya, Iran akan selalu menemukan alasan untuk berdiri kembali, bahkan dari bayang-bayang kehilangan. Allahu a’lam.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Menakar Ketinggian dari Kedalaman Akar

Dalam Thus Spoke Zarathustra (Demikianlah Zarathustra Bersabda), Nietzsche menulis aforisma tentang sebuah perumpamaan yang tajam tentang kejujuran yang mungkin...

Derrida: Menemukan Kebenaran yang Tak Pernah Selesai

Di antara para filsuf abad ke-20, mungkin tidak banyak pemikir yang sering disalahpahami sekaligus berpengaruh seperti Jacques Derrida. Dalam...

Bojan, Persib, dan Warisan Kejayaan

Haji Umuh sudah mengucapkan maklumat, bahwa Bojan Hodak akan pergi, dan penggantinya adalah IgorTolic. Bagi sebagian bobotoh, kepergian Bojan...

Persib dan Ujian Gelar Three-Peat

Dalam terkaan banyak orang, sepak bola kerap dipahami melalui bahasa yang sangat sederhana: tentang kemenangan dan kekalahan, soal juara...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Amor Fati

Dalam lalu-lintas kehidupan manusia, ada satu kecenderungan yang hampir selalu menyertai: keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu. Manusia ingin memilih...

Uberwinden

Dalam arus pemikiran Nietzsche, sejauh saya memahaminya, hidup tidak pernah hadir sebagai sebuah telaga yang tenang. Diibaratkan, hidup adalah...

Must read

Menakar Ketinggian dari Kedalaman Akar

Dalam Thus Spoke Zarathustra (Demikianlah Zarathustra Bersabda), Nietzsche menulis...

Derrida: Menemukan Kebenaran yang Tak Pernah Selesai

Di antara para filsuf abad ke-20, mungkin tidak banyak...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you