LEO

-

- Advertisment -spot_img

Di bawah langit Kansas City, barangkali kita tidak sedang menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola biasa, kita sedang mengkhidmati babak-babak akhir dari sebuah “mukjizat” berjalan. Laga perdana Grup J Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Aljazair ini menjadi saksi bagaimana waktu tunduk pada keanggunan, dan bagaimana sejarah ditulis dengan tinta emas yang penuh haru.

Saya melihat Argentina bermain seperti sebuah puisi yang mengalir tenang. Di jantung pertunjukan itu, Lionel Messi berdiri memimpin takdir rekan-rekan mudanya. Tiga gol (hat-trick) yang dilesakkannya malam itu untuk mengunci kemenangan 3-0 terasa begitu magis bagi dunia, meski bagi internal tim, itu adalah keindahan yang biasa mereka saksikan. “Sulit menjelaskannya, tetapi kami tidak terkejut oleh apa yang ia lakukan, karena kami beruntung bisa melihat keajaiban itu setiap hari di tempat latihan,” begitu kata pelatih Lionel Scaloni.

Namun, ketika peluit pergantian berbunyi di menit ke-79 dan Messi berjalan meninggalkan lapangan, ada sesuatu yang luruh di bangku cadangan. Tatapan mata Scaloni berkaca-kaca, berkilau oleh keharuan yang mendalam. Di sana ada keheningan seorang mentor yang kehabisan kata-kata. “Saya kehabisan kata-kata untuk Leo. Apa lagi yang bisa saya katakan? Dia luar biasa,” ungkapnya dengan suara yang bergetar menahan takjub.

Air mata yang tertahan di sudut mata sang pelatih adalah cerminan dari rasa cinta universal yang melampaui sekat negara. Ini bukan lagi tentang Argentina semata, ini tentang kerinduan kolektif umat manusia akan keindahan. “Orang-orang yang menyukai sepak bola hanya ingin melihatnya bermain, bukan hanya orang Argentina. Apa yang dia tularkan kepada dunia sungguh luar biasa,” lanjut Scaloni.

​Melihat Messi melangkah keluar, menyerahkan ban kapten kepada Otamendi, kita dipaksa merenung: Akankah keagungan seperti ini terwariskan ketika ia benar-benar pensiun nanti?

​Jika yang kita cari adalah tiruan fisiknya, mungkin kita akan kecewa, karena kejeniusan Messi adalah sesuatu yang “sulit dijelaskan”, sebuah anugerah yang hanya dipinjamkan Tuhan sekali dalam satu masa. Namun, lihatlah bagaimana ia bermain selama dua dekade ini: dengan konsistensi langka yang menggetarkan jiwa siapa pun yang mencintai sepak bola. Selama ia masih memiliki hasrat untuk bermain, ia akan selalu menjadi yang terbaik.

Barangkali, warisan sejati Messi tidak terletak pada bakat yang diwariskan melalui instruksi taktis, melainkan pada ketulusan rasa, dan cinta yang ia tularkan kepada dunia. Air mata berkaca-kaca dari sang pelatih malam itu adalah bukti bahwa sosok Messi tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia telah mengendap menjadi standar keluhuran permainan bagi generasi baru. Tubuhnya mungkin akan menua dan meninggalkan lapangan hijau, namun liukan yang indah dan lesakan gol ke gawang lawan yang ia tinggalkan malam itu akan abadi, hidup selamanya di lubuk hati setiap insan yang mencintai sepak bola.[]

Previous article
Next article

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Melepas Senja, Menyambut Cahaya

"Selamat ulang tahun". Sebuah pesan melalui WhatsApp sampai di HP saya. "Aku hanya memberimu sebuah kutipan ini dari Rumi....

“The Nones”: Pencarian terhadap yang Sakral di Era Digital

Tahun 1882, Friedrich Nietzsche melalui tokoh “orang gila” dalam The Gay Science melontarkan sebuah kalimat yang mengguncang panggung sejarah...

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS, 2026). Ia hadir diam-diam di tengah keramaian, menyusup ke dalam...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain legendaris yang memenangkan trofi. Namun barangkali, hanya segelintir manusia dalam...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Humata, Hukhta, Hvarstha

Barangkali tragedi terbesar manusia bukanlah bahwa ia hidup di dunia yang gelap, melainkan bahwa ia sering kehilangan arah pulang...

Menakar Ketinggian dari Kedalaman Akar

Dalam Thus Spoke Zarathustra (Demikianlah Zarathustra Bersabda), Nietzsche menulis aforisma tentang sebuah perumpamaan yang tajam tentang kejujuran yang mungkin...

Must read

Melepas Senja, Menyambut Cahaya

"Selamat ulang tahun". Sebuah pesan melalui WhatsApp sampai di...

“The Nones”: Pencarian terhadap yang Sakral di Era Digital

Tahun 1882, Friedrich Nietzsche melalui tokoh “orang gila” dalam...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you