
Ada masa ketika metafisika berjalan dengan penuh percaya diri, seperti seseorang yang berjalan di atas awan, mengira telah menemukan jalan menuju kebenaran tertinggi. Dari Plato hingga Leibniz, filsafat seakan menjadi jembatan antara dunia inderawi dan dunia ide. Namun, di abad ke-18 kita menyaksikan sebuah krisis yang menggema tentang adanya keraguan terhadap kemampuan akal untuk menembus yang mutlak. Maka, di tengah zaman itu, lahirlah seorang filsuf di kota kecil Konigsberg, Prusia Timur. Seorang yang hampir tak pernah meninggalkan tanah kelahirannya, namun pikirannya menjelajahi semesta rasio manusia. Dia adalah Immanuel Kant.
Riwayat Hidup dan Meditasi Rasionalitas
Kant lahir pada 22 April 1724 dari keluarga sederhana. Konon, ia tumbuh dalam disiplin moralisme Lutheran yang ketat, di bawah atmosfer pietisme yang menekankan kesalehan batin dan kerja keras. Dikisahkan, dari awal hidupnya, Kant sudah akrab dengan ide tentang kewajiban dan tanggung jawab. Sebuah benih yang kelak tumbuh menjadi konsep moralnya yang paling terkenal: imperatif kategoris.
Selama hidupnya, Kant hampir tidak pernah meninggalkan Konigsberg. Ia menjalani kehidupan yang teratur: berjalan pada jam yang sama setiap hari, bekerja, mengajar, menulis, dan berpikir. Namun keteraturan itu bukanlah kebekuan. Ia seperti seorang biarawan rasional, yang berpuasa dari dunia luar agar pikirannya bisa menatap ke dalam hakikat pengetahuan itu sendiri.
Ketika Kant membaca karya David Hume, ia mengaku “terbangun dari tidur dogmatisnya.” Hume mengguncang dasar rasionalisme dengan menunjukkan bahwa hubungan sebab-akibat bukanlah hasil dari rasio murni, melainkan kebiasaan pengalaman. Dunia tidak menyingkap dirinya kepada kita melalui nalar, melainkan melalui persepsi yang tak menentu. Kant kemudian bertanya: jika begitu, apa dasar bagi pengetahuan yang niscaya dan universal? Apakah segala sesuatu hanyalah bayangan kebiasaan di dinding pengalaman?
Pertanyaan inilah yang menyalakan api besar dalam dirinya. Ia tidak ingin menolak akal seperti kaum empiris, juga tidak ingin menenggelamkannya dalam metafisika yang tak terbukti seperti para rasionalis. Ia ingin menemukan jalan tengah. Bagaimana mungkin pengetahuan bersifat universal, tetapi tetap berakar pada pengalaman manusia? Dari pergulatan itulah lahir karya besarnya, Critique of Pure Reason (Kritik atas Akal Budi Murni, 1781).
Revolusi Kopernikan dalam Filsafat
Kant menyadari bahwa filsafat selama ini menempuh jalan keliru yang selalu berusaha menyesuaikan pikiran dengan objek, seakan kebenaran harus dicari di luar diri manusia. Ia lalu membalikkan arah itu secara radikal. Dalam analoginya yang terkenal, ia berkata bahwa filsafat memerlukan revolusi serupa dengan yang dilakukan Copernicus terhadap astronomi: “Sejauh ini diasumsikan bahwa semua pengetahuan kita harus menyesuaikan diri dengan objek. Namun semua upaya untuk mengetahui sesuatu tentang objek a priori, dengan cara ini, berakhir dengan kegagalan. Maka, marilah kita mencoba apakah kita tidak akan lebih berhasil dengan mengasumsikan bahwa objek harus menyesuaikan diri dengan pengetahuan kita,” begitu katanya dalam Critique of Pure Reason.
Inilah yang disebut “Revolusi Kopernikan dalam filsafat.” Kant menegaskan bahwa pengalaman memang penting, tetapi struktur dasar dari cara kita mengalami sesuatu telah ditentukan oleh bentuk-bentuk apriori dalam pikiran manusia. Ruang dan waktu, misalnya, bukanlah sesuatu yang berada “di luar sana”, melainkan bentuk-bentuk intuisi yang membentuk cara kita memahami dunia. Begitu pula, kategori-kategori seperti sebab-akibat, kesatuan, keberadaan, dan substansi bukanlah hasil pengalaman, melainkan syarat bagi pengalaman itu sendiri.
Dengan demikian, akal budi manusia bukan sekadar cermin pasif dunia. Ia adalah lensa aktif yang memantulkan, membentuk, dan memberi arti pada dunia. Dunia sebagaimana kita pahami bukanlah dunia pada dirinya sendiri (noumenon), melainkan dunia sebagaimana tampak bagi kita (phenomenon). Kant menulis dalam Critique of Pure Reason, bahwa “pikiran tidak menimba hukum-hukum alam dari alam itu sendiri, melainkan memaksakannya kepada alam.”
Kata “memaksakan” di sini bukan berarti kesewenang-wenangan, tetapi menandai bahwa hukum-hukum rasional merupakan syarat yang memungkinkan dunia dapat dipahami. Di sinilah batas metafisika pertama ditemukan, bahwa akal manusia hanya mampu mengetahui dunia sejauh ia menampak dan berjejak dalam ruang dan waktu. Segala yang melampaui batas itu, apakah itu tentang Tuhan, kebebasan, ataupun keabadian, tak bisa dibuktikan secara teoretis. Ia hanya bisa “dipercaya” dalam wilayah praktis, yaitu moralitas.
Imperatif Kategori: Etika di Tengah Kekosongan Metafisika
Kant tidak berhenti pada kritik terhadap pengetahuan. Setelah ia menunjukkan keterbatasan akal dalam Critique of Pure Reason, ia menulis Critique of Practical Reason dan Groundwork of the Metaphysics of Morals untuk menemukan dasar moral yang tetap mungkin tanpa bergantung pada dogma metafisik.
Bagi Kant, moralitas tidak boleh bersandar pada hasil, konsekuensi, atau emosi, ia harus bersandar pada niat dan kewajiban, sesuatu yang berlaku universal bagi semua makhluk rasional. Maka ia merumuskan prinsip moral tertinggi yang disebut imperatif kategoris, yakni perintah moral yang tidak bersyarat. Menurut Kant, “bertindaklah hanya menurut asas yang olehnya engkau dapat sekaligus menghendaki bahwa ia menjadi hukum universal.” (Groundwork of the Metaphysics of Morals, Ak. 421). “Bertindaklah sedemikian rupa sehingga engkau memperlakukan kemanusiaan, baik dalam dirimu maupun dalam diri orang lain, selalu sebagai tujuan dan tidak semata-mata sebagai alat,” begitu Kant menambahkan (ibid., Ak. 429)
Kant membangun moralitas dari dalam kesadaran manusia itu sendiri. Jika metafisika tak dapat menjamin keberadaan Tuhan atau jiwa abadi, maka moralitaslah yang justru menuntut keduanya sebagai postulat. Manusia harus berasumsi bahwa ia bebas, bahwa jiwanya abadi, dan bahwa Tuhan ada bukan karena bisa dibuktikan, melainkan karena tanpanya hukum moral kehilangan makna.
Di sini, metafisika bukan lagi ilmu tentang yang melampaui pengalaman, tetapi menjadi iman rasional yang lahir dari tuntutan moral. Rasio, yang semula mengklaim ingin mengetahui Tuhan, akhirnya tunduk pada kesadaran akan batasnya sendiri. Filsafat, bagi Kant, adalah latihan kerendahan hati intelektual.
Sintesis antara Rasionalisme dan Empirisme
Sebelum Kant, dunia filsafat terbagi antara dua kutub: rasionalisme, yang diwakili oleh Descartes, Spinoza, dan Leibniz, dan empirisme, yang diwakili oleh Locke, Berkeley, dan Hume. Rasionalisme menekankan bahwa pengetahuan sejati berasal dari ide-ide bawaan akal, sementara empirisme menegaskan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman.
Kant menganggap perdebatan itu seperti dua pihak yang berbicara dalam bahasa berbeda. Ia kemudian menengahi dengan membedakan dua hal: “isi pengetahuan” memang datang dari pengalaman (a posteriori), tetapi “bentuk pengetahuan” ditentukan oleh struktur apriori dalam pikiran manusia. Dengan kata lain, pengetahuan adalah hasil dari sintesis antara pengalaman dan rasio. “Pikiran tanpa isi adalah kosong, intuisi tanpa konsep adalah buta,” begitu katanya.
Kalimat ini menjadi inti dari seluruh proyek Kantian: akal dan pengalaman bukan dua dunia yang saling meniadakan, tetapi dua kutub yang saling membutuhkan untuk melahirkan pengetahuan. Rasionalisme memberi bentuk, empirisme memberi isi. Tanpa keduanya, pengetahuan tidak akan pernah lahir.
Kritik terhadap Metafisika
Setelah Kant, metafisika tak lagi bisa berbicara dengan nada dogmatis. Ia telah kehilangan takhta lamanya, namun tidak mati. Ia berubah menjadi refleksi atas syarat kemungkinan pengetahuan dan moral. Kant tidak menghancurkan metafisika, melainkan menyelamatkannya dari kesombongan. Ia mengembalikannya ke tempat yang wajar. Bukan di langit ide, melainkan di dalam struktur kesadaran manusia.
Melalui tiga karyanya, Kritik atas Akal Budi Murni, Kritik atas Akal Budi Praktis, dan Kritik atas Daya Pertimbangan, Kant membangun arsitektur rasionalitas modern. Ia mengajarkan bahwa kebebasan dan tanggung jawab tidak ditemukan di luar manusia, tetapi dalam otonomi rasionalnya sendiri. Dalam dunia yang dipenuhi determinasi alam, moralitas adalah satu-satunya wilayah di mana manusia dapat berkata: aku harus.
Dari pemikiran inilah lahir banyak gerakan filsafat besar setelahnya: idealisme Jerman (Fichte, Schelling, Hegel), eksistensialisme (Kierkegaard, Heidegger), bahkan positivisme dan fenomenologi. Kant menjadi semacam “mata air” yang darinya filsafat modern menimba arah baru: filsafat yang sadar akan keterbatasannya, namun tetap setia pada pencarian makna.
Penutup
Kant tidak menulis dengan gaya puitis, tapi seluruh karyanya menyimpan kesunyian yang dalam. Ia berbicara tentang batas, bukan sebagai penjara, tetapi sebagai ruang di mana manusia menemukan kebebasan sejatinya. Dengan mengenali batas pengetahuan, manusia justru memahami luasnya misteri yang mengelilinginya. Dengan menyadari bahwa Tuhan tak dapat dibuktikan, manusia belajar untuk beriman tanpa kesombongan rasional.
Kant tidak memberi kita kebenaran akhir, melainkan kompas untuk berjalan, bahwa pengetahuan harus rendah hati, moralitas harus lahir dari otonomi, dan rasio harus tahu kapan berhenti agar keheningan dapat berbicara.
Di penghujung Critique of Practical Reason, ia menulis kalimat yang mungkin paling indah dari seluruh karya filsafat modern: “Dua hal memenuhi jiwa dengan kekaguman dan rasa hormat yang selalu baru dan bertambah, semakin sering dan tekun memikirkannya: langit berbintang di atasku dan hukum moral di dalam diriku.”
Di antara dua keheningan itulah, langit dan hati manusia, Kant meletakkan filsafatnya. Bukan untuk menjawab semua pertanyaan, tetapi untuk mengajarkan kepada kita bahwa berpikir adalah bentuk ibadah yang paling sunyi, dan mengetahui batas adalah cara tertinggi manusia menghormati kebenaran. Mungkin begitu.[]






