Most recent articles by:

Radea Juli Hambali

- Advertisement -spot_imgspot_img

Refleksi 79 Tahun Pengabdian

Sepemahaman saya, Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar penanda usia organisasi, atau sekedar bilangan yang datang untuk dirayakan dan diperingati. Dies...

Mi’raj

“Nabi naik ke langit untuk menerima perintah shalat, agar manusia tahu: jalan ke Tuhan tidak jauh, ia dimulai dari sujud.” (Syams Tabriz) Menurut para penutur...

Jalan yang Tak Terlihat

“Sebagian orang menemukan Tuhan di kedalaman dosanya, sementara sebagian yang lain justru kehilangan-Nya di puncak kenikmatannya.” — Syams Tabriz Kalimat ini lewat di beranda IG...

Dari Cahaya Teks ke Jalan Realitas: Menimbang Kembali Arah Gerak Muhammadiyah

113. Bukan sekadar penanda usia sebuah organisasi, tetapi ia jejak panjang kesadaran moral yang terus tumbuh di tubuh bangsa. Satu abad lebih Muhammadiyah berjalan...

Subjectivity is Truth: Renungan Mendalam atas Eksistensialisme Kierkegaard

Soren Aabye Kierkegaard (5 Mei 1813 – 11 November 1855) sering dibayangkan sebagai sosok yang berjalan sendirian di jalan-jalan Kopenhagen: mantel panjang, langkah cepat,...

Ziarah Sunyi Menuju Hati

“Kucari Tuhan di kuil, Gereja dan Mesjid, aku menemukan-Nya dalam hatiku.” Pernyataan yang konon diasalkan kepada Rumi ini tampaknya bukan sekadar ungkapan mistik, melainkan...

Friedrich Nietzsche: Antara Nihilisme dan Keberanian untuk Mengada

Ada satu suara di abad ke-19 yang tidak sekadar terdengar, tetapi mengguncang kesadaran manusia hingga ke sumsum nilai-nilai terdalamnya. Suara itu lahir bukan dari...

Arthur Schopenhauer dan Filsafat Pesimisme: Antara Kehendak, Representasi, dan Penderitaan sebagai Hakikat Ada

Dalam sejarah panjang filsafat Barat, nama Arthur Schopenhauer (1788–1860) berdiri sebagai suara yang melawan arus. Ia muncul di tengah abad ke-19 yang dipenuhi dengan...

Must read

Melepas Senja, Menyambut Cahaya

"Selamat ulang tahun". Sebuah pesan melalui WhatsApp sampai di...

“The Nones”: Pencarian terhadap yang Sakral di Era Digital

Tahun 1882, Friedrich Nietzsche melalui tokoh “orang gila” dalam...
- Advertisement -spot_imgspot_img