PhilosophiaKierkegaard

Kierkegaard

-

- Advertisment -spot_img
Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855)

Di usia 20 tahunan karir intelektualnya sudah meroket. Hidupnya mapan dan berkecukupan. Tapi kemudian ia menderita dan dirundung putus asa akibat “kasih tak sampai” karena gagal mempersunting wanita yang dikasihinya. Duduk di pelaminan hanya tinggal impian. Berbulan madu di awan biru hanyalah lamunan yang menyesakkan.

Penderitaan yang hebat, luka dan keputusasannya yang berat telah “memaksa” dirinya untuk “beruzlah” menjadi sosok penyendiri di sebuah apartemen.

Di tengah kesendirian akibat perasaan terluka dan kecewa, dia malah disergap grapomania yang “menitahkan” pikirannya untuk tetap berdenyut, tak bisa menyerah. Penderitaan juga keputusasaan yang dialaminya seumpama “blessing indisguise” bagi tangannya untuk terus menulis dan menulis.

Dalam hitungan tahun ia sukses melahirkan banyak karya dan manuskrip yang merentang dari tema filsafat, autobiografi, cerita fiksi bahkan khotbah agama. Seluruh manuskrip yang dibuatnya ini kemudian membentuk matrik pemikiran yang khas dalam dunia filsafat tentang keberadaan manusia: Eksistensialisme. Eksistensialisme adalah filsafat yang memandang sesuatu gejala bertitik tolak dari eksistensinya. Eksistensi sendiri dapat diartikan sebagai suatu bentuk keberadaan. Manusia berada di dalam dunia atau dengan perkataan lain cara berada manusia di dalam dunia.

Kata ‘eksistensi’ berasal dari kata ‘eks’ (keluar) dan ‘sistensi’, yang diturunkan dari kata kerja ‘sisto’ (berdiri, menempatkan). Oleh karena itu, kata ‘eksistensi’ dapat diartikan manusia yang berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya. Bagi Kierkegaard, pangkal tolak segala sesuatu pengamatan adalah manusia, yaitu manusia sebagai suatu kenyataan subjektif. Subjektivitas manusia yakni manusia individual yang menjalankan eksistensinya.

“Tdak ada satu manusia pun yang tidak pernah putus asa,” begitu kilahnya. “Kalau ada orang yang mengatakan tidak pernah, maka itu merupakan sebuah tindakan membohongi diri sendiri yang akan membawa seseorang kepada keputusasaannya yang lebih dalam”.

Kierkegaard adalah “uswah” buat pria yang pernah terluka hatinya. Ia adalah contoh yang sempurna bagi laki-laki yang pernah tersakiti nuraninya, bahwa penderitaan juga keputusasaan akibat asmara tak seharusnya menumpulkan bahkan mematikan fungsi nalar. “Kasih tak sampai” tak harus menjadi alibi untuk kemudian mengatakan “yang patah memang tumbuh, lalu sembuh tapi tak bisa kembali utuh”.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS, 2026). Ia hadir diam-diam di tengah keramaian, menyusup ke dalam...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain legendaris yang memenangkan trofi. Namun barangkali, hanya segelintir manusia dalam...

LEO

Di bawah langit Kansas City, barangkali kita tidak sedang menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola biasa, kita sedang mengkhidmati babak-babak...

Humata, Hukhta, Hvarstha

Barangkali tragedi terbesar manusia bukanlah bahwa ia hidup di dunia yang gelap, melainkan bahwa ia sering kehilangan arah pulang...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Menakar Ketinggian dari Kedalaman Akar

Dalam Thus Spoke Zarathustra (Demikianlah Zarathustra Bersabda), Nietzsche menulis aforisma tentang sebuah perumpamaan yang tajam tentang kejujuran yang mungkin...

Derrida: Menemukan Kebenaran yang Tak Pernah Selesai

Di antara para filsuf abad ke-20, mungkin tidak banyak pemikir yang sering disalahpahami sekaligus berpengaruh seperti Jacques Derrida. Dalam...

Must read

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS,...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you