RefleksiMuasal Seksisme dan Misogini

Muasal Seksisme dan Misogini

-

- Advertisment -spot_img

Tradisi sufi menempatkan perempuan dalam posisi yang istimewa, bahkan menurut Ibnu Arabi, persaksian terhadap Tuhan dalam diri perempuan merupakan bentuk “persaksian” yang sempurna.

Di tepi lain, Rumi mengemukakan ikhwal serupa. Menurutnya, “perempuan adalah pantulan cahaya ilahi, bukan pelampiasan birahi. Tidak! Konon dia bukan makhluk biasa, dia bahkan mencipta”.

Tampak dengan jelas, baik Ibnu Arabi juga Rumi meneguhkan ikhwal yang sama, bahwa kehadiran perempuan  tidak bisa dianggap sepele. Karena ia “bukan makhluk biasa” maka kehadirannya tidak sekadar menggenapi kehadiran laki-laki bahkan  pada titik tertentu seperti yang menjadi keyakinan Ibnu Arabi dan Rumi, menjadi titik epicentrum pengenalan manusia terhadap Tuhan.

Sekalipun perempuan disebut sebagai jalan pengenalan dan bentuk persaksian yang paling sempurna terhadap Tuhan, tradisi sufi mengakui juga bahwa laki-laki dan perempuan berada dalam posisi setara. Jika Tuhan mencipta Adam tanpa Hawa, mungkin tak ada “rindu” dan “dendam”. Mungkin juga tidak dikenal “jalal” dan “jamal”. Mungkin juga tidak diketahui “marah” dan “rahmat”.

Sedemikian terhormatnya posisi perempuan dalam Islam demikian juga perkara kesetaraan. Lalu dari mana akar kekerasan berlangsung? Ada banyak jawaban yang bisa diberikan. Mungkin soal budaya. Barangkali soal persefsi juga anggapan tradisi.

Dalam tradisi pemikiran, muasal kekerasan bisa dilacak dari pemetaan “subjek-objek”. Terutama dalam tradisi Cartesian yang meletakkan subjek sebagai “pusat” kebenaran. Pusat yang “cukup diri”. Lalu lahirlah terma “biner-oposisi”: dua hal yang berlawanan tetapi yang satu diletakkan secara istimewa dan mendapatkan perlakuan yang berbeda. Turunan biner-oposisi melahirkan “kuat-lemah”, “atas-bawah”, “kaya-miskin”, “maskulin-feminin” dan seterusnya.

Subjek adalah pusat sedang objek adalah wilayah asing yang keberadaannya tergantung persefsi subjek. Objek adalah “the other” atau “liyan” yang dalam prakteknya kerap menjadi korban persekusi bahkan stigma negatif.

Relasi subjek-objek sering tidak seimbang sebab pola relasi yang dipakai sebagaimana menurut Martin Buber adalah relasi “I-It”. Aku berkomunikasi denganmu tapi keberadaanmu tidak seimbang dengan keberadaanku. Di hadapanku kamu adalah benda asing. Dari ketidakseimbangan relasi ini lahirlah seksisme dan misogini.

Sebaliknya, dalam Islam seperti yang diwakili tradisi sufi. Relasi yang berlangsung adalah “Subjek-subjek” yang dalam pola Buber berlangsung dalam “I-Thou”. Kamu dan aku berada dalam posisi yang sama. Pengenalan tentang aku terjadi karena kehadiranmu, begitu juga sebaliknya.

Alhasil. Kekerasan terhadap perempuan bukan soal tradisi atau budaya belaka. Dalam prakteknya, ia seolah mendapat “pembenaran” dalam epistemologi pengetahuan. Menanggulangi dan mencegah kekerasan terhadap perempuan dengan itu juga adalah perkara membereskan epsitemologi pengetahuan sebagai akarnya. Allahu a’lam[]

Previous article
Next article

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Setelah Habermas: Merawat Percakapan yang Hampir Hilang

14 Maret 2026 lalu Jurgen Habermas wafat di usia 96 tahun. Kabar meninggalnya filsuf yang konon ditahbis sebagai penjaga...

Khamenei (2)

Syahidnya Ali Khamenei tak serta merta melumpuhkan perlawanan Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel. Iran adalah peradaban panjang, sepanjang...

Khamenei

Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan bahasa politik ketika memandang sosok seperti Ali Khamenei. Saya kira, ia...

(Bukan) Paling Benar, (tetapi) Paling Bermanfaat

“Orang yang paling baik bukanlah orang yang paling benar, melainkan orang yang paling banyak manfaatnya,” begitu pernyataan sebuah kutipan...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Refleksi 79 Tahun Pengabdian

Sepemahaman saya, Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar penanda usia organisasi, atau sekedar bilangan yang datang...

Mi’raj

“Nabi naik ke langit untuk menerima perintah shalat, agar manusia tahu: jalan ke Tuhan tidak jauh, ia dimulai dari...

Must read

Setelah Habermas: Merawat Percakapan yang Hampir Hilang

14 Maret 2026 lalu Jurgen Habermas wafat di usia...

Khamenei (2)

Syahidnya Ali Khamenei tak serta merta melumpuhkan perlawanan Iran...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you