Dunia BukuNeksus (Simpul Kehidupan Modern Menurut Harari)

Neksus (Simpul Kehidupan Modern Menurut Harari)

-

- Advertisment -spot_img

Dalam bentang sejarah manusia, tidak ada satu pun fenomena yang berdiri sendiri. Semuanya saling terhubung, berjejaring, dan membentuk semacam simpul kehidupan, sebuah “nexus”, begitu kira-kira menurut Yuval Noah Harari.

Neksus bukan hanya pertemuan dua garis, melainkan simpul dari banyak benang: gagasan, peristiwa, tubuh, kekuasaan, dan cerita. Dari sanalah realitas hari ini terbentuk, dari sana pula masa depan kehidupan ditenun.

Melalui Neksus, Harari menelisik keterjalinan mendalam antara teknologi dan tubuh manusia. Di masa silam, tubuh manusia adalah batas, tapi hari ini, ia menjadi proyek yang bisa dimodifikasi. Dari alat pacu jantung hingga alat bantu cerdas, dari chip implan hingga potensi rekayasa genetik. Teknologi tak sekadar alat bantu, ia menjadi bagian dari tubuh itu sendiri.

Dalam pemahaman Harari, pertanyaannya bukan lagi “apa itu manusia”, melainkan “manusia bisa menjadi apalagi”. Sampai di sini, kita dihadapkan pada neksus yang mengguncang: ketika batas antara sesuatu alamiah dan buatan menjadi kabur. Tubuh tidak lagi disebut sekadar warisan biologis, tetapi kemungkinan yang bisa direkayasa. Namun demikian, dalam kebebasan itu, muncul tanggungjawab etis: apakah kita akan menjadi lebih manusiawi, atau malah kehilangan esensi?

Dalam dunia yang makin digital, Harari mengingatkan bahwa data adalah “alat kekuasaan baru”, tapi lebih dari itu, ia adalah senjata. Di tangan siapa data dikumpulkan, di sana pula kekuasaan bertumpu. Ini bukan sekadar pengawasan, melainkan bentuk kontrol yang subtil namun total.

Ketika algoritma tahu apa yang kita inginkan, maka kebebasan menjadi ilusi. Kita tidak lagi sekadar memilih, kita diarahkan. Neksus antara data dan kekuasaan telah menciptakan tatanan baru: dari negara-negara hingga korporasi, kekuasaan tidak lagi tampak sebagai sosok represif, melainkan sebagai pola digital yang halus merayu, merekomendasi, dan tentu saja mengendalikan.

Harari mengundang kita untuk merenung: apakah manusia benar-benar memiliki identitas, atau sekadar jejak digital yang didefinisikan oleh sistem?

Gagasan lain dari neksus yang dikemukakan Harari adalah bahwa menurutnya, kenyataan sosial dibangun atas dasar cerita bersama. Uang, negara, agama, bahkan hak asasi manusia, semuanya adalah narasi yang kita yakini bersama. Ia ada karena kesepakatan kolektif, ia ada karena kita yakini, dan karena itu menjadi nyata.

Di sinilah neksus antara imajinasi dan realitas sosial menjadi jelas. Manusia adalah makhluk naratif; manusia hidup dari cerita. Kekuatan cerita memang bisa membangun peradaban, tapi juga ia bisa menyesatkan, begitu menurut Harari. Ketika cerita bersama menjadi dogma, ketika narasi dipelihara bukan demi kebenaran tapi demi kekuasaan, maka kenyataan sosial menjadi tirani yang tak kasatmata.

Di antara simpul-simpul itu –tubuh dan teknologi, data dan kekuasaan, cerita dan kenyataan, Harari menempatkan kita pada sebuah persimpangan besar. Masa depan bukanlah kelanjutan dari masa silam, melainkan hasil dari pertaruhan besar antara imajinasi, etika, dan keberanian memilih.

Neksus, sebagaimana disampaikan Harari, bukan untuk ditakuti, tetapi untuk disadari. Karena hanya dengan kesadaran, kita bisa memilih jalan yang tidak sekadar efisien, tapi juga manusiawi. Jalan yang tidak hanya canggih, tapi juga bijaksana. Jalan yang tidak kehilangan jiwa.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Setelah Habermas: Merawat Percakapan yang Hampir Hilang

14 Maret 2026 lalu Jurgen Habermas wafat di usia 96 tahun. Kabar meninggalnya filsuf yang konon ditahbis sebagai penjaga...

Khamenei (2)

Syahidnya Ali Khamenei tak serta merta melumpuhkan perlawanan Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel. Iran adalah peradaban panjang, sepanjang...

Khamenei

Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan bahasa politik ketika memandang sosok seperti Ali Khamenei. Saya kira, ia...

(Bukan) Paling Benar, (tetapi) Paling Bermanfaat

“Orang yang paling baik bukanlah orang yang paling benar, melainkan orang yang paling banyak manfaatnya,” begitu pernyataan sebuah kutipan...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Refleksi 79 Tahun Pengabdian

Sepemahaman saya, Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar penanda usia organisasi, atau sekedar bilangan yang datang...

Mi’raj

“Nabi naik ke langit untuk menerima perintah shalat, agar manusia tahu: jalan ke Tuhan tidak jauh, ia dimulai dari...

Must read

Setelah Habermas: Merawat Percakapan yang Hampir Hilang

14 Maret 2026 lalu Jurgen Habermas wafat di usia...

Khamenei (2)

Syahidnya Ali Khamenei tak serta merta melumpuhkan perlawanan Iran...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you