PhilosophiaAda adalah Dipersepsi (Renungan atas Filsafat George Berkeley dan...

Ada adalah Dipersepsi (Renungan atas Filsafat George Berkeley dan Epistemologi Modern)

-

- Advertisment -spot_img

Ada satu suara dalam sejarah filsafat yang sering terdengar samar, seolah tenggelam oleh gaung besar nama-nama seperti Rene Descartes, John Locke, David Hume, atau Immanuel Kant. Namun jika didengar dengan cermat, suara itu menyimpan sesuatu yang mengguncang, sebuah pernyataan bahwa dunia yang kita kenal sebenarnya tidak memiliki substansi material sama sekali. Suara itu datang dari seorang uskup berkebangsaan Irlandia, George Berkeley (1685–1753).

Berkeley tidak memulai dari premis bahwa dunia itu ilusi, sebagaimana orang sering salah mengira. Ia tidak berkata bahwa realitas hanya ada dalam mimpi manusia. Sebaliknya, Berkeley mengatakan sesuatu yang lebih halus tetapi jauh lebih tajam dan radikal, bahwa menurutnya segala sesuatu yang ada, ada karena dipersepsi: Esse est percipi!

Kalimat itu, begitu singkat, mungkin sederhana, tetapi sarat implikasi. Pernyataan kunci yang disampaikan Berkeley ini, seolah membalikkan hampir seluruh asumsi filsafat modern yang baru saja dibangun di atas fondasi empirisisme Locke dan rasionalisme Descartes. Bagi Locke, memang benar pengetahuan kita terbatas pada ide-ide yang hadir dalam pikiran. Namun Locke tetap mempertahankan bahwa ada “substansi material” di luar sana, yang menjadi sumber bagi ide-ide tersebut. Bagi Descartes, dunia material adalah res extensa, suatu realitas yang eksis di luar pikiran manusia meski kepastiannya dijamin oleh Tuhan.

Berkeley menolak keduanya. Baginya, berbicara tentang substansi material adalah berbicara tentang sesuatu yang mustahil. Kita tidak pernah mengenal “materi” secara langsung, kita hanya mengenal persepsi, warna, rasa, suara, tekstur, bau, yang hadir dalam pikiran. Maka apa gunanya mengatakan bahwa ada “substansi” yang menopang semua itu, jika ia sendiri tidak pernah muncul dalam pengalaman?

Dalam A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge (1710), Berkeley menulis dengan sangat jelas, “their esse is percipi; nor is it possible they should have any existence, out of the minds or thinking things which perceive them.” Segala sesuatu yang kita sebut benda, objek, atau dunia eksternal, tidak memiliki keberadaan selain dalam pikiran makhluk yang mempersepsinya.

Idealisme Subjektif

Filsafat Berkeley sering disebut sebagai idealisme subjektif atau immaterialisme. Ia idealis karena meyakini bahwa realitas pada dasarnya bersifat mental, ide dalam pikiran. Ia subjektif karena realitas itu tergantung pada persepsi subjek.

Ketika kita melihat sebuah pohon, apa yang kita tangkap? Warna hijau daun, bau tanah di sekitarnya, suara burung yang hinggap di cabangnya, tekstur kasar batangnya saat disentuh. Semua itu adalah kualitas yang hadir dalam pikiran. Tetapi apakah ada “substansi pohon” yang berdiri independen dari pikiran? Berkeley menjawab: tidak. Pohon itu sendiri adalah kumpulan persepsi.
Namun, di sini timbul keberatan klasik, jika pohon hanya ada dalam persepsi, apakah ia lenyap begitu saja ketika tidak ada orang yang melihatnya? Apakah dunia bergantung sepenuhnya pada kesadaran manusia? Berkeley menjawab dengan menghadirkan Tuhan. Dunia tetap ada karena selalu dipersepsi oleh pikiran ilahi. Tidak ada satu pun momen ketika semesta tidak hadir dalam kesadaran, sebab kesadaran Tuhan bersifat abadi.

Ia menulis, “So long as they are not actually perceived by me, or do not exist in my mind or that of any other created spirit, they must either have no existence at all, or else subsist in the mind of some eternal spirit.” Dunia tetap ada, karena ia berada dalam pandangan abadi Tuhan.

Dengan begitu, Berkeley tidak menutup mata terhadap realitas. Ia justru ingin membersihkan filsafat dari bayangan entitas yang tidak pernah kita kenal: materi. Dunia, katanya, tidak lain adalah “bahasa Tuhan” yang berbicara melalui persepsi kita.

Epistemologi Modern dan Radikalisasi Empirisisme

Apa implikasi dari pandangan ini bagi epistemologi modernisme? Pertama, Berkeley membawa empirisisme ke titik paling radikal. Locke membedakan antara kualitas primer (panjang, bentuk, gerak) yang dianggap benar-benar ada dalam benda, dan kualitas sekunder (warna, rasa, suara) yang hanya ada dalam pikiran. Berkeley menolak pembedaan ini. Semua kualitas, primer maupun sekunder, hanya ada dalam pikiran. Tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa bentuk lebih nyata daripada warna, atau bahwa gerak lebih substansial daripada rasa. Semuanya sama, ia adalah ide-ide dalam kesadaran.

Kedua, pengetahuan tidak lagi dipandang sebagai representasi tentang dunia material. Pengetahuan adalah pengalaman langsung atas ide. Kita tidak berhubungan dengan salinan realitas di luar pikiran; kita berhubungan dengan realitas itu sendiri, karena realitas = persepsi.

Ketiga, dengan menghadirkan Tuhan, Berkeley menjamin konsistensi dunia. Epistemologi modern, sejak Descartes, selalu dihantui oleh skeptisisme, bagaimana jika dunia luar hanyalah ilusi? Bagaimana jika tidak ada jaminan bahwa pengalaman kita benar-benar menunjuk pada sesuatu? Berkeley mengatasi keraguan ini dengan cara yang khas, bahwa dunia memang tidak berdiri di luar kesadaran, tetapi ia konsisten karena selalu berada dalam kesadaran ilahi.

Dengan demikian, epistemologi tidak kehilangan kepastian. Sebaliknya, ia mendapatkan jaminan baru, yaitu Tuhan sebagai pengamat abadi.

Persepsi sebagai Konstruksi

Selain membahas metafisika immaterialisme, Berkeley juga menulis tentang teori persepsi, khususnya dalam An Essay Towards a New Theory of Vision (1709). Di sini ia menunjukkan bahwa kemampuan kita mengenali jarak, kedalaman, atau ruang bukanlah sesuatu yang langsung diberikan oleh penglihatan. Mata hanya menangkap sensasi cahaya dan warna. Pemahaman tentang jarak adalah hasil asosiasi antara pengalaman visual dan pengalaman sentuhan atau gerak tubuh.

Ini berarti persepsi bukanlah cermin pasif dunia, melainkan konstruksi aktif dari pengalaman. Kita “belajar” melihat jarak. Kita menafsirkan tanda-tanda visual berdasarkan kebiasaan yang terbentuk dari interaksi dengan dunia.

Pandangan ini sangat berpengaruh bagi perkembangan psikologi persepsi modern. Ia mengajarkan bahwa pengalaman indrawi selalu dimediasi oleh proses mental, asosiasi, dan interpretasi. Apa yang kita sebut “melihat” sebenarnya adalah menafsirkan.

Kritik dan Keabadian Gagasan

Tentu saja, filsafat Berkeley mengundang banyak kritik. David Hume, misalnya, menilai bahwa idealisme subjektifnya cenderung berujung pada solipsisme, jika segala sesuatu hanyalah ide dalam pikiran, bagaimana kita memastikan bahwa orang lain ada? Bagaimana kita menjamin dunia tidak sekadar imajinasi kita?

Namun, terlepas dari kritik itu, gagasan Berkeley tetap meninggalkan jejak. Ia memaksa filsafat untuk menyadari keterbatasan klaim tentang dunia material. Ia mengingatkan bahwa apa yang kita sebut “realitas” tidak pernah melampaui persepsi.
Kant, yang datang setelahnya, akan mengambil langkah lain, bahwa dunia fenomena memang hadir dalam pengalaman kita, tetapi ada “benda pada dirinya sendiri” yang tidak terjangkau. Namun, dalam arti tertentu, Kant sedang melanjutkan percakapan yang dibuka Berkeley: bahwa pengetahuan manusia selalu terikat pada cara kita mempersepsi, bukan pada dunia di luar persepsi itu.

Dunia sebagai Kehadiran

Berfilsafat dengan Berkeley berarti menatap dunia dengan cara yang berbeda. Kita tidak lagi melihat meja, kursi, atau langit biru sebagai benda yang berdiri sendiri di luar sana. Kita melihatnya sebagai kehadiran dalam kesadaran. Dunia tidak jauh, tidak asing, tidak dingin. Dunia adalah sesuatu yang selalu hadir dalam hubungan kita dengannya.

Dan di balik semua itu, ada satu kesadaran yang lebih luas, yang menjadi jaminan bahwa realitas tidak akan runtuh saat kita memejamkan mata. Dunia, dalam pandangan Berkeley, bukanlah sebuah mesin material yang berputar tanpa makna. Dunia adalah bahasa, sebuah pesan yang terus dibisikkan Tuhan kepada kesadaran manusia.

Ia menulis dengan indah, “All the choir of heaven and furniture of the earth… have not any subsistence without a mind.” Segala keindahan langit, segala perabot bumi, hanya ada karena ada pikiran yang mempersepsinya.

Maka ketika kita melihat matahari terbenam, ketika kita mendengar suara ombak, atau ketika kita merasakan hangatnya tangan seseorang, semua itu tidak pernah sekadar fakta material. Mereka adalah kehadiran yang berbicara, sebuah tanda bahwa dunia ini senantiasa hidup dalam persepsi, dan persepsi itu sendiri dijaga oleh pikiran ilahi.

Penutup

George Berkeley mungkin tidak seterkenal Rene Descartes ataupun Immanuel Kant, tetapi suaranya tetap penting. Ia menantang kita untuk bertanya kembali, apakah yang kita sebut “realitas” benar-benar berdiri di luar kesadaran? Ataukah realitas itu sendiri tidak lain adalah kesadaran yang berkelindan?

Dengan idealisme subjektifnya, Berkeley mengajarkan satu hal, bahwa pengetahuan bukanlah soal menyingkap benda pada dirinya sendiri, melainkan soal memahami pengalaman sebagaimana ia hadir. Dunia adalah percakapan yang tak pernah selesai antara manusia dan Tuhan, antara persepsi dan makna. Mungkin, justru di sanalah letak keindahannya. Dunia ini tidak hanya ada. Dunia ini hadir.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Setelah Habermas: Merawat Percakapan yang Hampir Hilang

14 Maret 2026 lalu Jurgen Habermas wafat di usia 96 tahun. Kabar meninggalnya filsuf yang konon ditahbis sebagai penjaga...

Khamenei (2)

Syahidnya Ali Khamenei tak serta merta melumpuhkan perlawanan Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel. Iran adalah peradaban panjang, sepanjang...

Khamenei

Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan bahasa politik ketika memandang sosok seperti Ali Khamenei. Saya kira, ia...

(Bukan) Paling Benar, (tetapi) Paling Bermanfaat

“Orang yang paling baik bukanlah orang yang paling benar, melainkan orang yang paling banyak manfaatnya,” begitu pernyataan sebuah kutipan...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Refleksi 79 Tahun Pengabdian

Sepemahaman saya, Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar penanda usia organisasi, atau sekedar bilangan yang datang...

Mi’raj

“Nabi naik ke langit untuk menerima perintah shalat, agar manusia tahu: jalan ke Tuhan tidak jauh, ia dimulai dari...

Must read

Setelah Habermas: Merawat Percakapan yang Hampir Hilang

14 Maret 2026 lalu Jurgen Habermas wafat di usia...

Khamenei (2)

Syahidnya Ali Khamenei tak serta merta melumpuhkan perlawanan Iran...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you