Refleksi“YANG-MUTLAK”

“YANG-MUTLAK”

-

- Advertisment -spot_img

“Rasa yang sublim, tentang sesuatu yang meresap jauh lebih dalam. Yang huniannya adalah cahaya matahari terbenam. Dan lautan yang mengelilingi dan udara yang hidup, dan langit biru dan dalam pikiran manusia” (William Wordsworth)

Tradisi pemikiran, kearifan para mistikus, ratapan para penyair juga keyakinan para perenialis meneguhkan suatu “kepercayaan” tentang adanya “realitas sejati dan tertinggi”. “Realitas sejati dan tertinggi” adalah muasal segala sesuatu. Ia meliputi, dan menjadi alpha-omeganya bagi seluruh yang hidup.

Kitab suci, manuskrip kuno juga lembaran-lembaran yang diyakini bisa memantik energi dan pencerahan tertentu menyebut “realitas sejati dan tertinggi” itu dengan “rta, Brahman, Dao, nirwana, elohim atau Tuhan”.

Seluruh nama dan penyebutan ini menurut Karen Amstrong sebenarnya adalah “definisi”. Sebuah siasat yang kita kenal dalam logika sebagai cara untuk “menetapkan batasan” pada realitas yang pada dasarnya tidak terbatas.

Menghindar dari membuat batas pada sesuatu yang tertinggi dan mustahil untuk dipahami, Ibnu Arabi lalu menyebut “realitas sejati dan tertinggi” itu dengan “Yang Mutlak” (apakah ini juga batasan?). Yang Mutlak adalah sesuatu yang bahkan tidak mungkin disebut Tuhan. Yang Mutlak “per se” tidak mungkin diringkus konsepsi atau dihampiri.

Tosihiko Izutsu menegaskan bahwa Yang Mutlak dalam transendensi ini adalah “tidak bersyarat” (unconditional). Kesendirian esensial ini tidak mungkin menjadi objek pengetahuan dan dapat dijamah oleh kognisi manusia. Ia selamanya adalah misteri bahkan Misteri dari segala misteri.

Tidak hanya Misteri, tapi juga ia adalah energi. Dalam bahasa Heideger, ia adalah Sein. Energi fundamental yang menopang dan merasuki segala yang ada. Kita tidak dapat melihat, menyentuh, atau mendengarnya. Tetapi kita dapat melihatnya secara misterius bekerja pada manusia, benda dan kekuatan alam yang dijalarinya.

Perhatikan orang yang keserupan! Ada energi yang entah bagaimana ia menggejala dan merasuki pada orang tersebut. Ia berteriak. Otot yang mengeras. Mata yang menyalak. Kita tidak bisa mengidentifikasi sosok di sebaliknya tapi ia jelas nampak dalam gerakan juga teriakan yang aneh dan tidak normal.

Tapi apakah Tuhan, Brahman, Dao menjadi istilah yang tidak penting? Manusia dengan segala keterbatasan butuh acuan (kebahasaan). Manusia memerlukan definisi yang bisa memandu orientasi dan dapat memapah jalan supaya sampai di tujuan.

Kopi hanyalah sebutan. Pada dirinya yang esensial dan primordial, tidak bisa ditangkap hanya dengan definisi. Mustahil dirangkum dengan istilah ilmiah sebagai “coffea”. Biji yang dikeringkan lalu diolah dengan tehnik roasting ataupun grinding sampai kemudian brewing. Pagi ini, kopi adalah energi juga inspirasi buat saya. Saya dan kopi seumpama manunggal, terjadi sejenis “unio mystica”. Ia menjalari tubuh. Mata terbelalak dan tangan yang tiba-tiba aktif. Kesurupan? Hee….

Tabik,

RADEA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Derrida: Menemukan Kebenaran yang Tak Pernah Selesai

Di antara para filsuf abad ke-20, mungkin tidak banyak pemikir yang sering disalahpahami sekaligus berpengaruh seperti Jacques Derrida. Dalam...

Bojan, Persib, dan Warisan Kejayaan

Haji Umuh sudah mengucapkan maklumat, bahwa Bojan Hodak akan pergi, dan penggantinya adalah IgorTolic. Bagi sebagian bobotoh, kepergian Bojan...

Persib dan Ujian Gelar Three-Peat

Dalam terkaan banyak orang, sepak bola kerap dipahami melalui bahasa yang sangat sederhana: tentang kemenangan dan kekalahan, soal juara...

Amor Fati

Dalam lalu-lintas kehidupan manusia, ada satu kecenderungan yang hampir selalu menyertai: keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu. Manusia ingin memilih...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Uberwinden

Dalam arus pemikiran Nietzsche, sejauh saya memahaminya, hidup tidak pernah hadir sebagai sebuah telaga yang tenang. Diibaratkan, hidup adalah...

Setelah Habermas: Merawat Percakapan yang Hampir Hilang

14 Maret 2026 lalu Jurgen Habermas wafat di usia 96 tahun. Kabar meninggalnya filsuf yang konon ditahbis sebagai penjaga...

Must read

Derrida: Menemukan Kebenaran yang Tak Pernah Selesai

Di antara para filsuf abad ke-20, mungkin tidak banyak...

Bojan, Persib, dan Warisan Kejayaan

Haji Umuh sudah mengucapkan maklumat, bahwa Bojan Hodak akan...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you