Refleksi"Bipolaritas" Iman

“Bipolaritas” Iman

-

- Advertisment -spot_img

Pemikiran modern menyebutnya dengan “bipolaritas kesadaran”. Dalilnya, kesadaran manusia selalu terarah kepada sesuatu. Maksudnya, kesadaran manusia atau cara berpikir manusia sudah selalu menjadi bagian dari realitas dimana ia tinggal. Kesadaran manusia atau cara berpikir manusia bukanlah sesuatu yang kosong dan sepi dari pengaruh-pengaruh yang mengitarinya.

Kesadaran terarah merupakan kritik terhadap subjektifisme Cartesian yang meneguhkan rasio manusia sebagai sosok protagonis yang “cukup diri”, tak membutuhkan realitas atau terhubung dengan realitas di luar dirinya.

Melampaui subjektifisme Cartesian dan bipolaritas kesadaran, iman menyuguhkan pemahaman lain. Otentisitas iman selalu terarah bahkan diukur dengan tindakan (amal), bela rasa dan keberpihakan pada sesama. Dengan ini, iman bukan sesuatu yang abstrak tentang kepercayaan kepada sesuatu. “Tidak disebut beriman jika tidak peduli kepada tetangga”, kata sebuah hadis. “Tidak juga disebut  beriman, jika tak hormat kepada tamu”, begitu kata hadis lainnya.

Dengan itu, iman bukan sikap yang abstrak juga pasif. Iman adalah relasi dan keterhubungan. Ia semacam energi potensial yang akan memancar, menebal dan menjadi aktual manakala  diukur bahkan bermetamorfosa menjadi tindakan baik yang mendatangkan kemanfaatan.

Aktualitas iman adalah kesadaran keterhubungan antara mukmin yang satu dengan mukmin lainnya. Seperti sebuah pesan suci, “mukmin yang satu dengan mukmin yang lain seumpama tubuh, jika satu bagian sakit maka bagian lain merasakan hal yang sama”.

Puasa yang kita jalani selama sebulan, dengan itu bukanlah laku spiritual yang menekankan kesalehan individual an sich. Pada laku puasa ada energi aktual untuk terhubung dengan yang lain. Konsentrasi ibadah ini tak hendak membangun ketaqwaan  individual tapi juga ketaqwaan sosial. Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun juga”. Begitu kata sebuah hadis.

Iman dengan itu melampaui bipolaritas kesadaran tentang keterhubungan dengan sesuatu atau yang lain. Pada iman ada dua gerak penting, yaitu “gerak sentripetal” dan “gerak sentrifugal. Gerak sentripetal adalah gerak menuju kepada pelaku orang yang berpuasa sebagai kepatuhan terjadap perintah Tuhan. Sedangkan gerak sentrifugal adalah gerak melenting ke luar tentang kesadaran untuk membangun empati dan keberpihakan kepada sesama dengan tindakan-tindakan yang baik. Allahu a’lam[]

Previous article
Next article

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS, 2026). Ia hadir diam-diam di tengah keramaian, menyusup ke dalam...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain legendaris yang memenangkan trofi. Namun barangkali, hanya segelintir manusia dalam...

LEO

Di bawah langit Kansas City, barangkali kita tidak sedang menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola biasa, kita sedang mengkhidmati babak-babak...

Humata, Hukhta, Hvarstha

Barangkali tragedi terbesar manusia bukanlah bahwa ia hidup di dunia yang gelap, melainkan bahwa ia sering kehilangan arah pulang...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Menakar Ketinggian dari Kedalaman Akar

Dalam Thus Spoke Zarathustra (Demikianlah Zarathustra Bersabda), Nietzsche menulis aforisma tentang sebuah perumpamaan yang tajam tentang kejujuran yang mungkin...

Derrida: Menemukan Kebenaran yang Tak Pernah Selesai

Di antara para filsuf abad ke-20, mungkin tidak banyak pemikir yang sering disalahpahami sekaligus berpengaruh seperti Jacques Derrida. Dalam...

Must read

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS,...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you