CelotehPAGI (2)

PAGI (2)

-

- Advertisment -spot_img

Berulang-ulang, pagi menemui manusia. Ia seperti mengabarkan bahwa sesuatu yang ajeg dan rutin  itu pasti hadir dan kembali. Bersama dingin yang menyentuh lembut, menyelusup pori-pori kulit. Lalu matahari yang dengan sinarnya menyapa, seakan seluruh dunia terbenam dalam cahaya kuning. Sampai di sini, mungkin benar apa yang diimani Nietzsche tentang “berulangnya segala sesuatu”.

Eternal recurrence atau pengulangan abadi adalah nubuwat sang filsuf “si pembunuh Tuhan” tentang ikhwal kehidupan, termasuk kejadian baik dan buruk, akan terulang kembali secara persis tanpa ada retakan dan perubahan. Bayangkan, kehidupan kita dengan segala detailnya, baik kebahagiaan ataupun penderitaan. Baik kebrengsekan ataupun kesalehan akan berulang dalam siklus yang sama tanpa akhir.

Tapi tentu saja, Nietzsche menyampaikan ini tidak dengan yakin dan meletakkannya bukan sebagai kebenaran ilmiah atau metafisik, melainkan sebagai cara pandang manusia terhadap kehidupan. Tentang bagaimana manusia memberi makna pada arus kehidupan yang ia libati di dalamnya.

Ya, senyatanya, pada setiap yang kita temui selalu ada retakan baru yang tidak sama persis. Hukum alam seperti menitahkan ketentuan tentang adanya yang ganjil dan menyempal meskipun situasinya serupa. Retakan baru itu ada pada cara kita memandang dan memberi makna pada kehidupan yang kita temui itu.

Dan pagi bagi saya adalah soal  memandang segala sesuatu secara baru sebagai yang terus “menjadi”. Persis, pagi adalah waktu. Waktu sebagaimana diyakini Bergson sebagai “La Duree” (durasi), yaitu waktu yang dialami langsung oleh kesadaran manusia. Durasi tidak bersifat kuantitatif seperti angka dalam jam atau urutan tanggal dalam kalender. Durasi bersifat kualitatif dan tidak terputus. Terus menjadi.

Jadi, pagi ini adalah pagi yang kemarin juga, tetapi pagi hari ini memantik kesadaran baru untuk memberi makna. Pagi ini seakan menjadi awal bagi pengalaman baru yang akan terus tumbuh dan menumbuhkan mungkin juga mendewasakan. Pagi adalah keniscayaan bahwa manusia akan selalu dalam proses menjadi.[]

#IntuisiPagi

Previous article
Next article

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Bojan, Persib, dan Warisan Kejayaan

Haji Umuh sudah mengucapkan maklumat, bahwa Bojan Hodak akan pergi, dan penggantinya adalah IgorTolic. Bagi sebagian bobotoh, kepergian Bojan...

Persib dan Ujian Gelar Three-Peat

Dalam terkaan banyak orang, sepak bola kerap dipahami melalui bahasa yang sangat sederhana: tentang kemenangan dan kekalahan, soal juara...

Amor Fati

Dalam lalu-lintas kehidupan manusia, ada satu kecenderungan yang hampir selalu menyertai: keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu. Manusia ingin memilih...

Uberwinden

Dalam arus pemikiran Nietzsche, sejauh saya memahaminya, hidup tidak pernah hadir sebagai sebuah telaga yang tenang. Diibaratkan, hidup adalah...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Setelah Habermas: Merawat Percakapan yang Hampir Hilang

14 Maret 2026 lalu Jurgen Habermas wafat di usia 96 tahun. Kabar meninggalnya filsuf yang konon ditahbis sebagai penjaga...

Khamenei (2)

Syahidnya Ali Khamenei tak serta merta melumpuhkan perlawanan Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel. Iran adalah peradaban panjang, sepanjang...

Must read

Bojan, Persib, dan Warisan Kejayaan

Haji Umuh sudah mengucapkan maklumat, bahwa Bojan Hodak akan...

Persib dan Ujian Gelar Three-Peat

Dalam terkaan banyak orang, sepak bola kerap dipahami melalui...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you