Philosophia"Yang Tak Tersentuh, Yang Tetap Ada" (Membaca Gagasan Graham...

“Yang Tak Tersentuh, Yang Tetap Ada” (Membaca Gagasan Graham Harman yang Diperkenalkan Fakhri Afif)

-

- Advertisment -spot_img

Ada sesuatu yang selalu tersembunyi dalam segala hal. Kita menatap sebuah kursi, seolah kita tahu betul ia hanyalah kayu yang dibentuk, dipaku, diampelas, lalu dipernis. Tetapi senyatanya, kursi itu menyimpan lebih banyak daripada yang bisa ditangkap oleh mata ataupun analisis panca indera. Ia membawa kita pada ingatan tentang pohon yang ditebang, cerita tangan pengrajin yang tak kita kenal, bahkan bayangan tubuh yang pernah duduk di atasnya. Sungguh, kursi itu tak pernah habis untuk dipahami. Ia selalu “mengelak” bahkan menyembunyikan dirinya sendiri.

Graham Harman, seorang filsuf Amerika yang sering dikait-kaitkan dengan aliran “speculativ realism” menyebutnya dengan “Object-Oriented Ontology”, suatu jalan untuk mengakui martabat dan kehormatan benda-benda, keberadaan yang otonom, yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar bagian-bagian kecil atau sekadar makna yang kita sematkan. Setiap objek adalah dunia. Ia tidak berhenti pada apa yang kita lihat dan kita tanggapi. Bahkan ilmu pengetahuan, dengan segala kecerdasan dan ketelitian mikroskopnya, hanya menyentuh bungkus luarnya saja.

Kita terbiasa memandang dunia dari kacamata manusia, antroposentris. Alam hanyalah sumber daya. Benda hanyalah alat. Tetapi OOO mengingatkan, bahwa dunia tidak berputar semata-mata di sekitar kita. Batu, sungai, bahkan pikiran yang lewat sekilas di benak, adalah objek dengan keberadaan yang tak bisa ditundukkan sepenuhnya. Mereka punya “kedalaman” yang mustahil terjamah. Mereka memiliki “misteri” yang tak sepenuhnya bisa diselami. Mereka seolah “yang-lain” yang menolak untuk dimengerti.

Barangkali, inilah mengapa seni terasa begitu dekat dengan kebenaran yang lain. Sebuah lukisan bukanlah sekadar warna di atas kanvas. Ia membuka celah, menghadirkan sesuatu dari objek yang tersembunyi, meski tetap tak pernah seluruhnya. Musik, puisi, patung, semuanya bukan mengungkap, melainkan menyibak sedikit misteri yang selalu menyelinap.

Karena itulah, dengan filsafatnya Harman menolak dua kecenderungan. Pertama, yang mereduksi objek hanya sebagai kumpulan unsur paling dasar (undermining).  Kedua, yang meniadakan objek sebagai sesuatu yang nyata, hanya menganggapnya efek dari relasi dan persepsi (overmining). Dalam pandangannya, objek tetap ada, terlepas dari kita. Dunia akan ada dan terus berlangsung meski tak seorang pun manusia hadir sebagai penyaksinya.

Kebijaksanaan Klasik

Apa artinya ini bagi kita? Sangat boleh jadi, ini adalah semacam undangan untuk rendah hati. Untuk berhenti merasa bahwa dunia sepenuhnya dapat direngkuh, dimiliki atau dikuasai. Ada banyak hal yang tak sanggup  dimengerti, dipahami, dijamah, meski dengan seluruh kecanggihan teknologi.

OOO adalah lecutan untuk sadar, bahwa segala yang ada, dari batu kecil hingga gunung, dari mesin algoritma hingga bintang yang jauh, mempunyai lapisan misteri. Lapisan yang tak bisa dipreteli habis, tak bisa ditukar dengan rumus atau data. Ada rahasia di setiap benda. Ada “yang tak tersentuh” di dalam setiap yang tampak. Barangkali, ini yang dimaksud Fakhri Afif sebagai “tawaran alternatif untuk menghidupkan kembali kebijaksanaan klasik dari para leluhur agung umat manusia dalam menghormati realitas”.

“Kembali ke kebijaksanaan klasik” dalam pemahaman saya adalah ajakan untuk hidup lebih pelan. Menatap kursi, pohon, atau batu, dan menyadari bahwa di balik diamnya benda-benda itu, selalu ada dunia yang lebih luas dari jangkauan kita.

Hak untuk Tersembunyi

Jika setiap objek memiliki keberadaan yang otonom, tak bisa direduksi, maka cara kita berhubungan dengan dunia semestinya juga berubah. Karena itu, OOO boleh jadi adalah srmacam tawaran etis, bahwa alam bukan sekadar cadangan energi, bukan sekadar bahan baku yang menunggu dieksploitasi. Sebuah sungai tidak hanya aliran air untuk pabrik dan sawah, ia adalah objek yang menyimpan lapisan realitas yang lebih dalam dari sekadar fungsi pragmatisnya. Ia mengalir dengan atau tanpa kita, menyimpan kehidupan ikan-ikan, suara gemericik yang berabad-abad menimang bebatuan.

Di titik ini, OOO menegur kita yang terlalu mudah menundukkan segala sesuatu menjadi instrumen. Ekologi modern, sering kali, masih berpikir dalam logika manusia: menjaga hutan agar karbon terserap, agar udara tetap bersih, agar bencana tak datang. Tapi OOO membuka pintu pada cara pandang dan kesadaran yang lain, bahwa hutan layak dijaga bukan hanya karena ada manfaatnya bagi manusia, melainkan karena ia adalah sesuatu, sebuah objek dengan keberadaan yang setara dan bermartabat.

Etika di sini tidak lagi berpusat pada “manfaat untuk manusia”, melainkan pada pengakuan akan realitas benda-benda yang tak bisa kita kuasai seluruhnya. Dalam bahasa yang lebih sederhana: kita diminta untuk belajar hormat. Hormat kepada kursi, kepada air, kepada awan, bahkan kepada algoritma yang mengatur layar ponsel kita. Bukan berarti menyembah benda-benda, tetapi menyadari ada misteri yang tak bisa kita rampas, ada hak untuk “tetap tersembunyi” dalam diri benda-benda.

Seumpama puisi yang tidak pernah habis ditafsir. Ia selalu menyimpan ruang kosong, palung tanpa dasar yang tak terjangkau pembacanya. Demikian pula dengan benda-benda di sekitar kita. Kita hanya bisa mendekat, menyentuh lapisan fenomenalnya, tapi selalu ada bagian riil yang tak tersentuh. Dengan menyadari itu, kita belajar rendah hati.

Etika yang Lembut

OOO juga adalah lonceng peringatan bagi zaman teknologi. Di era ketika segalanya dapat dipetakan, diukur, dan diotomatisasi, kita tergoda untuk percaya bahwa dunia sudah sepenuhnya terbuka bagi pengetahuan. Padahal, bahkan mesin algoritma itu sendiri menyembunyikan sesuatu. Ia bukan hanya “kode” atau “program”, tapi sebuah objek dengan kedalaman yang bahkan tak dipahami penciptanya sendiri.

Mungkin di sinilah letak keindahan gagasan Harman yang diperkenalkan Fakhri Afif. Ia indah, karena mengajak untuk melihat dunia dengan rasa hormat, bahkan rasa takjub. Manusia tidak lagi berdiri sebagai penguasa tunggal, melainkan sebagai sesama penghuni, yang hidup bersama benda-benda dengan keheningan bahkan kemisteriusan mereka masing-masing.

Dan barangkali, dengan cara itu, kita bisa belajar etika yang lebih lembut untuk berjalan di bumi dengan langkah hati-hati, tidak sombong (wala tamsyi fil ardhi maroha), menyentuh benda dengan kesadaran, bahwa mereka lebih luas daripada tangan kita, memandang langit dengan pengakuan bahwa ada sesuatu di luar jangkauan pengetahuan kita. Etika yang berakar pada kerendahan hati, pada pengakuan bahwa manusia bukan pusat segalanya, melainkan bagian kecil dari jalinan objek yang tak terhitung jumlahnya.

Mungkin begitu. Siapa tahu.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Setelah Habermas: Merawat Percakapan yang Hampir Hilang

14 Maret 2026 lalu Jurgen Habermas wafat di usia 96 tahun. Kabar meninggalnya filsuf yang konon ditahbis sebagai penjaga...

Khamenei (2)

Syahidnya Ali Khamenei tak serta merta melumpuhkan perlawanan Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel. Iran adalah peradaban panjang, sepanjang...

Khamenei

Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan bahasa politik ketika memandang sosok seperti Ali Khamenei. Saya kira, ia...

(Bukan) Paling Benar, (tetapi) Paling Bermanfaat

“Orang yang paling baik bukanlah orang yang paling benar, melainkan orang yang paling banyak manfaatnya,” begitu pernyataan sebuah kutipan...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Refleksi 79 Tahun Pengabdian

Sepemahaman saya, Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar penanda usia organisasi, atau sekedar bilangan yang datang...

Mi’raj

“Nabi naik ke langit untuk menerima perintah shalat, agar manusia tahu: jalan ke Tuhan tidak jauh, ia dimulai dari...

Must read

Setelah Habermas: Merawat Percakapan yang Hampir Hilang

14 Maret 2026 lalu Jurgen Habermas wafat di usia...

Khamenei (2)

Syahidnya Ali Khamenei tak serta merta melumpuhkan perlawanan Iran...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you