HikmahZiarah Sunyi Menuju Hati

Ziarah Sunyi Menuju Hati

-

- Advertisment -spot_img

Kucari Tuhan di kuil, Gereja dan Mesjid, aku menemukan-Nya dalam hatiku.”

Pernyataan yang konon diasalkan kepada Rumi ini tampaknya bukan sekadar ungkapan mistik, melainkan puncak dari suatu ziarah batin yang panjang dan sunyi. Ia adalah jeritan sekaligus kedamaian seorang pencinta yang telah lelah mencari di luar, dan akhirnya sadar bahwa Sang Kekasih Ilahi selama ini bersemayam di dalam dirinya sendiri.

Di tempat yang lain Rumi juga pernah menyatakan bahwa “apa yang kau cari, sedang mencarimu juga.” Maka, pencarian manusia terhadap Tuhan bukanlah satu arah, Ia pun sedang menjemput manusia melalui rindu yang halus dan sunyi di dada. Di sinilah rahasia spiritualitas Rumi bahwa Tuhan bukan objek yang tak dikenal, yang jauh, melainkan kehadiran yang lembut, yang senantiasa dekat dan melekat, menunggu ditemukan di palung hati yang paling dalam.

Kuil, Gereja, dan Masjid hanyalah peta dan bukan tujuan. Rumi tidak menolak tempat-tempat suci itu, tapi ia mengingatkan bahwa yang benar-benar suci bukanlah dinding dan kubah, melainkan kesadaran yang hidup dalam hati manusia. “Jangan puas dengan cerita bagaimana orang lain berjalan,” katanya, “bukalah mitosmu sendiri.” Artinya, setiap jiwa memiliki jalan menuju Tuhan yang unik, yang tak dapat disalin dari luar.

Ketika manusia berhenti mencari di dunia luar dan mulai mendengarkan suara di dalam, ia akan menemukan bahwa Tuhan hadir dalam setiap napas, dalam cinta, dalam ampunan, bahkan dalam luka. Sebab, seperti kata Rumi, “lukamu adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu.”

Maka, menemukan Tuhan bukanlah tentang menempuh jarak, tetapi tentang menyadari kedekatan. Puncak spiritualitas bukanlah penemuan, melainkan pengenalan, bahwa di dalam hati, di balik segala bentuk dan nama, ada satu kehadiran yang abadi. Di sanalah, sebagaimana disadari Rumi, Tuhan bersemayam.

Sungguh! Ia sangat dekat. Tak asing. Dan tak pernah pergi. Allahu a’lam.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Melepas Senja, Menyambut Cahaya

"Selamat ulang tahun". Sebuah pesan melalui WhatsApp sampai di HP saya. "Aku hanya memberimu sebuah kutipan ini dari Rumi....

“The Nones”: Pencarian terhadap yang Sakral di Era Digital

Tahun 1882, Friedrich Nietzsche melalui tokoh “orang gila” dalam The Gay Science melontarkan sebuah kalimat yang mengguncang panggung sejarah...

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS, 2026). Ia hadir diam-diam di tengah keramaian, menyusup ke dalam...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain legendaris yang memenangkan trofi. Namun barangkali, hanya segelintir manusia dalam...
- Advertisement -spot_imgspot_img

LEO

Di bawah langit Kansas City, barangkali kita tidak sedang menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola biasa, kita sedang mengkhidmati babak-babak...

Humata, Hukhta, Hvarstha

Barangkali tragedi terbesar manusia bukanlah bahwa ia hidup di dunia yang gelap, melainkan bahwa ia sering kehilangan arah pulang...

Must read

Melepas Senja, Menyambut Cahaya

"Selamat ulang tahun". Sebuah pesan melalui WhatsApp sampai di...

“The Nones”: Pencarian terhadap yang Sakral di Era Digital

Tahun 1882, Friedrich Nietzsche melalui tokoh “orang gila” dalam...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you