HikmahMi'raj

Mi’raj

-

- Advertisment -spot_img

Nabi naik ke langit untuk menerima perintah shalat, agar manusia tahu: jalan ke Tuhan tidak jauh, ia dimulai dari sujud.” (Syams Tabriz)

Menurut para penutur agama dan penyampai ajaran Tuhan, Isra’ Mi‘raj harus dibayangkan sebagai peristiwa agung yang jauh dari jangkauan manusia biasa. Langit bertingkat, sidratul muntaha, dan pertemuan yang tak terbayangkan dengan sejumlah orang saleh.

Namun Syams Tabriz, berdasarkan pernyataannya di atas menarik peristiwa yang di luar nalar itu kembali ke bumi, ke lantai tempat dahi menyentuh tanah. Seolah ia ingin berkata: Tuhan tidak hanya dijumpai dalam ketinggian kosmik dan peristiwa yang mustahil dijangkau akal, tetapi Ia dapat ditemukan dalam kerendahan yang total.

Sujud adalah bahasa paling jujur dari jiwa, begitu kata para sufi. Ketika dahi menyentuh bumi, seluruh klaim tentang “aku” tentang ego manusia sontak runtuh. Tidak ada yang tersisa untuk dibanggakan. Di momen itu, manusia berhenti mendaki kesombongan dan mulai naik dengan penyerahan. Paradoks spiritual pun terjadi: “semakin rendah seseorang merunduk, semakin tinggi ia diangkat”.

Syams melalui pernyataannya mengajarkan bahwa Mi‘raj bukanlah sejenis eskapisme dari kehidupan atau menghindar dari riuh sejarah, melainkan penjernihan cara hidup. Shalat, yang lahir dari perjalanan Mi‘raj yang dilakukan nabi adalah undangan harian agar manusia mengalami perjalanan batin itu berulang kali, semisal yang dilakukan nabi. Mi’raj sholat bukan untuk terbang ke langit, tetapi untuk membersihkan hati dari jarak yang diciptakan oleh ego, ambisi, dan kelalaian.

Dalam sujud, waktu seakan melambat. Dunia kehilangan suaranya. Di sana, manusia tidak sedang meminta langit, tetapi sedang dikembalikan pada hakikat dirinya: seorang hamba. Dan justru dalam pengakuan itulah, pintu kedekatan bahkan kemelekatan terbuka. Mungkin saja, Tuhan tidak mendekat karena kita naik tinggi, tetapi karena kita berhenti meninggikan diri.

Syams Tabriz seakan berbisik kepada kita: jangan mencari Tuhan di ketinggian metafisik semata. Jika engkau ingin Mi‘rajmu, perhaluslah sujudmu. Sebab jalan paling singkat menuju-Nya bukanlah tangga langit, melainkan hati yang jatuh sepenuhnya, dan rela bersujud ke tanah.

Pada akhirnya, Mi‘raj bukanlah kisah tentang seberapa tinggi manusia dapat terangkat, melainkan seberapa dalam ia berani merendahkan diri. Dalam sujud, ketika dahi menyentuh tanah dan air mata tak lagi tahu harus disembunyikan di mana, jarak antara hamba dan Tuhan luruh tanpa suara. Di sana, kita tak membawa apa-apa selain luka, harap, dan kepasrahan.

Dan barangkali, dalam ketelanjangan batin itulah, Tuhan paling dekat, lebih dekat dari napas yang dihela, lebih lembut dari detak jantung yang bergetar. Sujud pun menjadi Mi‘raj yang paling jujur: sebuah perjalanan pulang, bukan ke langit yang jauh, tetapi ke hati yang akhirnya berani tunduk sepenuhnya. Hanya kepada-Nya. Hanya untuk-Nya. Allahu a’lam.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS, 2026). Ia hadir diam-diam di tengah keramaian, menyusup ke dalam...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain legendaris yang memenangkan trofi. Namun barangkali, hanya segelintir manusia dalam...

LEO

Di bawah langit Kansas City, barangkali kita tidak sedang menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola biasa, kita sedang mengkhidmati babak-babak...

Humata, Hukhta, Hvarstha

Barangkali tragedi terbesar manusia bukanlah bahwa ia hidup di dunia yang gelap, melainkan bahwa ia sering kehilangan arah pulang...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Menakar Ketinggian dari Kedalaman Akar

Dalam Thus Spoke Zarathustra (Demikianlah Zarathustra Bersabda), Nietzsche menulis aforisma tentang sebuah perumpamaan yang tajam tentang kejujuran yang mungkin...

Derrida: Menemukan Kebenaran yang Tak Pernah Selesai

Di antara para filsuf abad ke-20, mungkin tidak banyak pemikir yang sering disalahpahami sekaligus berpengaruh seperti Jacques Derrida. Dalam...

Must read

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS,...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you