
Di antara para filsuf abad ke-20, mungkin tidak banyak pemikir yang sering disalahpahami sekaligus berpengaruh seperti Jacques Derrida. Dalam panggung pemikiran dunia, namanya hampir selalu dikaitkan dengan dekonstruksi, sebuah istilah yang kerap dianggap sebagai proyek penghancuran makna, pembongkaran kebenaran, atau bahkan perayaan relativisme. Namun anggapan semacam itu justru berjarak dari apa yang sesungguhnya sedang dikerjakan Derrida. Ia tidak sedang menghancurkan makna. Ia sedang mengajak kita menyadari bahwa makna tidak pernah sesederhana yang kita bayangkan.
Derrida memulai proyek filosofisnya dari sebuah kecurigaan yang tampak sederhana tetapi memiliki konsekuensi yang sangat luas dan mendasar: benarkah makna selalu hadir secara utuh dan penuh di hadapan kita? Benarkah kata-kata yang kita gunakan mampu menghadirkan dan memotret realitas secara sempurna? Benarkah kebenaran dapat berdiri di atas fondasi yang sepenuhnya kokoh dan bebas dari keretakan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang menjadi jantung pemikirannya.
Dalam tradisi filsafat Barat, sejak Plato hingga pemikiran modern, terdapat keyakinan bahwa di balik bahasa selalu ada suatu pusat yang stabil dan ajeg: hakikat, asal-usul, substansi, rasio, kesadaran, atau kebenaran yang hadir sepenuhnya. Derrida menyebut kecenderungan ini sebagai metafisika kehadiran (metaphysics of presence), yakni hasrat untuk menemukan sesuatu yang hadir secara murni dan dapat dijadikan jangkar dan fondasi terakhir bagi pengetahuan.
Namun bagi Derrida, kehadiran semacam itu tidak pernah benar-benar ada.
Ketika kita berbicara ataupun bergosip, makna tidak datang sebagai sesuatu yang selesai. Setiap kata memperoleh artinya dari kata-kata lain. Setiap tanda menunjuk kepada tanda berikutnya. Setiap definisi membutuhkan definisi lain. Makna bergerak dalam rantai yang tidak pernah berhenti dan tidak pernah selesai.
Dari sinilah Derrida memperkenalkan istilah yang kemudian terkenal: différance.
Ia menulis, bahwa différance berarti “berbeda” sekaligus berarti “menunda”. Makna muncul karena perbedaan dengan makna lain, tetapi pada saat yang sama ia juga terus tertunda karena tidak pernah hadir secara final. Kita mengira telah menangkap makna, tetapi sesungguhnya kita hanya menemukan jejak menuju makna berikutnya.
Dalam pengertian ini, bahasa bukanlah rumah yang tenang dan nyaman bagi kebenaran, melainkan sebuah perjalanan yang tak pernah mencapai pelabuhan terakhir. “Il n’y a pas de hors-texte,” (tidak ada sesuatu di luar teks), begitu kata Derrida.
Pernyataan ini sering disalahartikan seolah-olah dunia nyata tidak ada. Padahal yang hendak Derrida tunjukkan adalah bahwa apa pun yang kita pahami tentang dunia selalu dimediasi oleh sistem tanda, bahasa, sejarah, dan penafsiran. Kita tidak pernah berjumpa realitas dalam bentuk yang benar-benar murni. Kita selalu menemuinya melalui jejaring makna yang telah lebih dahulu membentuk cara kita melihat.
Karena itulah membaca, bagi Derrida, bukan sekadar memahami apa yang dikatakan sebuah teks. Membaca berarti mendengarkan apa yang tidak dikatakannya. Membaca berarti memperhatikan celah, ketegangan, kontradiksi, dan jejak-jejak yang diam-diam bekerja di balik kata-kata.
Yes, dekonstruksi lahir dari perhatian semacam itu.
Derrida sendiri pernah menegaskan bahwa dekonstruksi bukanlah metode, bukan prosedur teknis, dan bukan pula penghancuran. Dekonstruksi adalah cara membaca yang peka terhadap apa yang selama ini disisihkan oleh suatu sistem pemikiran. Ia mencari apa yang terpinggirkan, yang dibungkam, yang dianggap sekunder, tetapi justru memungkinkan keseluruhan bangunan makna berdiri.
Di sinilah dekonstruksi menjadi sekaligus kerja intelektual dan kerja etis.
Sebab hampir semua kebudayaan menurutnya dibangun melalui oposisi biner: rasional versus irasional, laki-laki versus perempuan, pusat versus pinggiran, Barat versus Timur, ucapan versus tulisan, hadir versus tidak hadir. Dalam setiap pasangan itu, biasanya satu pihak memperoleh status yang lebih tinggi, sementara yang lain ditempatkan hanya sebagai pelengkap atau bahkan dianggap inferior.
Derrida menunjukkan bahwa hierarki semacam itu tidak pernah netral.
Apa yang disebut kebenaran sering kali lahir dari proses pengutamaan satu sisi dan pengabaian sisi yang lain. Yang dianggap pusat hanya dapat menjadi pusat karena ada sesuatu yang didorong ke pinggir. Dengan demikian, setiap klaim tentang kemurnian selalu menyimpan jejak dari apa yang disingkirkannya.
Karena itu dekonstruksi bukanlah tindakan merobohkan bangunan pemikiran. Ia lebih menyerupai usaha memperlihatkan retakan-retakan halus yang sejak awal sudah ada di dalam bangunan tersebut.
Suatu waktu, Derrida pernah mengatakan: “Deconstruction is justice.” Kalimat ini menunjukkan bahwa dekonstruksi bukan sekadar permainan bahasa. Ia berkaitan dengan keadilan. Membaca secara dekonstruktif berarti memberi ruang bagi suara-suara yang selama ini tidak terdengar, bagi kemungkinan-kemungkinan yang selama ini ditutup oleh kepastian-kepastian yang mapan dan dianggap selesai.
Maka Derrida sesungguhnya sedang mengajarkan sebuah bentuk kerendahan hati intelektual.
Ia mengingatkan bahwa setiap konsep yang kita bangun selalu terbatas. Setiap keyakinan menyimpan kemungkinan untuk ditafsirkan kembali. Setiap kebenaran yang kita pegang membawa bayangan dari sesuatu yang belum kita pahami.
Di dunia yang semakin cepat menghasilkan opini, semakin tergesa-gesa membuat kesimpulan, dan semakin yakin terhadap identitas-identitas yang kaku, pemikiran Derrida terasa semakin relevan dan penting untuk dijadikan pertimbangan. Ia mengajak kita untuk berhenti sejenak sebelum menghakimi, untuk mendengar sebelum menyimpulkan, dan untuk membaca lebih dalam sebelum mengklaim telah mengerti dan memahami.
Barangkali itulah warisan terbesar Derrida.
Derrida tidak menawarkan sistem filsafat yang tertutup. Ia tidak memberikan jawaban akhir yang menyenangkan dan menenangkan. Sebaliknya, ia mengajarkan keberanian untuk hidup di tengah ketidakselesaian.
Sebab mungkin kehidupan memang bukan perjalanan menuju kepastian yang mutlak, melainkan perjalanan menyusuri jejak-jejak makna yang terus bergerak menjauh setiap kali kita merasa telah berhasil menangkap dan merengkuhnya.
Dan mungkin justru di dalam ketidakselesaian itulah kebijaksanaan lahir: ketika kita menyadari bahwa memahami bukanlah memiliki, bahwa mengetahui bukanlah menguasai, dan bahwa kebenaran yang paling jujur sering kali muncul bukan dari jawaban yang final, melainkan dari kesediaan untuk terus bertanya. Mungkin.[]








