Refleksi"Pelarian" yang Menyelamatkan

“Pelarian” yang Menyelamatkan

-

- Advertisment -spot_img

“Aku pelarian ke dalammu atas gejolak diriku. Kini aku milikmu, jangan pulangkan aku padaku” [Rumi]

Dilihat dari sudut tertentu, manusia “seluruhnya” adalah materi. Pemikiran modern menyimpulkannya demikian. Tak ada esensi, yang ada adalah eksistensi. Begitu menurut eksistensialisme. Barangkali, karena keyakinan ini pula, hasrat dan kecenderungan manusia selalu terarah pada benda-benda, pada sesuatu yang material.

Diakui atau tidak, seluruh orientasi manusia diarahkan sepenuhnya untuk memuaskan keinginan tubuh. Melayani keinginan badan.

Tapi hasrat badan sebagian besarnya adalah penderitaan, begitu kata para sufi. Atau dalam bahasa Iwan Fals, “keinginan adalah sumber penderitaan”.  Apakah pemantiknya? Menurut para sufi pula, nafsulah asal muasalnya. Nafsulah yang membujuknya.

Nafsu itulah pencipta “gejolak dalam diriku”, sebagaimana tampak pada “puisi” Rumi di atas. Gejolak yang telah menyebabkan sekian banyak manusia terperosok ke jurang kehinaan. Ke ruang penyesalan.

Jika nafsu menjadi muasal keinginan bahkan kejahatan, haruskah nafsu dibuang atau dimatikan? Nafsu harus dikendalikan bukan dimatikan, begitu kata agama. Manusia butuh “nafsu yang menenangkan” (nafsu muthmainnah) bukan nafsu yang mencelakakan (nafsu amarah). Ya, nafsu harus ditenangkan. Ia harus diarahkan supaya tak melulu membisikkan gejolak yang mencelakakan. Dengan apa? Melalui cara bagaimana?

Puasa sebulan yang sebentar lagi akan kita laksanakan adalah “pelarian” yang menyelamatkan itu. Puasa ramadan seturut dengan puisi Rumi di atas adalah laku spiritual yang berpotensi  mengendalikan dan mengarahkan “gejolak diriku” yang sering meledak-ledak. “Gejolak diriku” yang menjadi sebab rugi dan sengsaranya diriku.

Tapi puasa sebagai laku spiritual yang mengendalikan nafsu bukanlah “pelarian” yang asing dan tidak dikenal aku. Puasa adalah kesejatian aku disebabkan aku bukan sekadar tubuh material yang diyakini pemikiran modern. Aku yang asli dan primordial adalah aku yang spiritual.

Puasa sebagai laku spiritual seumpama “belahan jiwa” yang lama terpisah disebabkan hijab materi yang sengaja menghalangi kesejatian dan keotentikkan aku.

O, puasa kini aku milikmu. Jangan pulangkan aku padamu. “Dalam puasa memang terasa ada lara tapi dari hati akan muncul harta kita”, begitu kata Rumi.

Selama kita berpuasa, bisakah kita mengendalikan nafsu. Menggandengnya untuk menjadi teman tualang ke arah yang menyelamatkan bukan malah sebaliknya. Allahu a’lam[]

Previous article
Next article

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS, 2026). Ia hadir diam-diam di tengah keramaian, menyusup ke dalam...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain legendaris yang memenangkan trofi. Namun barangkali, hanya segelintir manusia dalam...

LEO

Di bawah langit Kansas City, barangkali kita tidak sedang menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola biasa, kita sedang mengkhidmati babak-babak...

Humata, Hukhta, Hvarstha

Barangkali tragedi terbesar manusia bukanlah bahwa ia hidup di dunia yang gelap, melainkan bahwa ia sering kehilangan arah pulang...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Menakar Ketinggian dari Kedalaman Akar

Dalam Thus Spoke Zarathustra (Demikianlah Zarathustra Bersabda), Nietzsche menulis aforisma tentang sebuah perumpamaan yang tajam tentang kejujuran yang mungkin...

Derrida: Menemukan Kebenaran yang Tak Pernah Selesai

Di antara para filsuf abad ke-20, mungkin tidak banyak pemikir yang sering disalahpahami sekaligus berpengaruh seperti Jacques Derrida. Dalam...

Must read

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS,...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you