RefleksiMenyemai Kesadaran Hijau di Kampus Islam

Menyemai Kesadaran Hijau di Kampus Islam

-

- Advertisment -spot_img

Di acara tasyakuran Dies Natalis ke-57 UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nazaruddin Umar, MA menyampaikan ceramah penting berkaitan dengan perlunya merumuskan kajian eko-teologis di kampus Islam.

Terasa ada relevansi dan pentingnya kajian tentang eko-telogis itu dikedepankan. Di tengah dunia yang kian rapuh oleh tangan manusia sendiri, kita dihadapkan pada kenyataan yang mencemaskan bahwa alam hari ini sedang tidak baik-baik saja. Pohon-pohon ditebang secara sembarang, sungai-sungai diracun atas nama kemajuan, udara dipenuhi polusi yang kita cipta sendiri.

Melalui seruan pa Menteri itu, kampus Islam ditantang untuk kembali mendengar bisikan semesta.  Sebuah ajakan terang-terangan untuk merenung, bertafakkur, dan bertindak.

Seorang pemikir eko-teologis Katolik, Thomas Berry, konon pernah menyatakan bahwa “The universe is a communion of subjects, not a collection of objects.” Ada ketegasan dalam pernyataan ini bahwa alam bukanlah benda mati yang secara semena-mena bebas untuk dieksploitasi. Alam adalah  bagian dari jaringan kehidupan yang suci dan penuh makna.

Senapas dengan pernyataan Berry, ayat-ayat kauniyah dalam Al-Qur’an pun menggambarkan alam sebagai makhluk yang tunduk, bertasbih, dan patuh kepada kehendak Ilahi (QS. Al-Isra: 44).

Rasanya, rumusan ataupun kajian eko-teologi di kampus Islam seperti yang diseru oleh pa Menteri Agama, tidak dibangun atas semangat akademik semata, tapi juga harus bersumber dari kesadaran batin yang paling dalam, bahwa bumi adalah bagian dari “tanggung jawab spiritual.”

Seyyed Hossein Nasr, seorang pemikir muslim kontemporer, jauh-jauh hari mengingatkan, bahwa krisis ekologi adalah manifestasi dari krisis spiritual manusia modern. Menurutnya, ketika manusia memutus relasi sakralnya dengan alam, ia akan kehilangan orientasi dan bisa mengubah ciptaan menjadi komoditas semata. Di sinilah akar persoalannya.

Oleh karena itu, kampus Islam mesti menjadi ruang untuk memadupadankan zikir dan pikir, refleksi dan aksi. Kajian eko-teologi tidak cukup hanya membahas persoalan lingkungan dalam kerangka teknis atau kebijakan, tapi juga menggali ulang relasi ontologis antara manusia, Tuhan, dan alam. Ditegaskan, merusak bumi bukan sekadar kesalahan ekologis, tapi juga dosa spiritual.

Dalam Islam, manusia adalah khalifah, tapi ia bukan penguasa absolut. Manusia adalah penjaga yang bertanggung jawab. Amanah ini tidak ringan. Dan kampus Islam memiliki kewajiban moral untuk mengawal dan membekali mahasiswanya dengan visi keberlanjutan yang tidak hanya hijau secara lingkungan, tetapi juga suci secara spiritual.

Alam ini adalah cermin bagi wajah Tuhan,” begitu kata Ibnu Arabi. Maka menjaga alam adalah bagian dari menjaga kemuliaan ciptaan-Nya. Dari sinilah kajian eko-teologi menjadi penting, bukan sekadar demi masa depan bumi ini, tapi demi kemurnian iman itu sendiri. In optima forma!

Kampus Islam, jika ia adalah tempat tumbuh dan mekarnya ilmu dan iman, maka ia harus menjadi pelopor kebangkitan kesadaran ekologis. Menjaga bumi bukan sekadar agenda lingkungan, tapi juga ibadah. Saya kira, ini adalah tugas berat tapi mulia untuk menyulam kembali hubungan yang mungkin berjarak antara manusia dan bumi. Antara iman dan lingkungan. Antara Tuhan dan dunia. Tabik!

Allahu a’lam[]

Previous article
Next article

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS, 2026). Ia hadir diam-diam di tengah keramaian, menyusup ke dalam...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain legendaris yang memenangkan trofi. Namun barangkali, hanya segelintir manusia dalam...

LEO

Di bawah langit Kansas City, barangkali kita tidak sedang menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola biasa, kita sedang mengkhidmati babak-babak...

Humata, Hukhta, Hvarstha

Barangkali tragedi terbesar manusia bukanlah bahwa ia hidup di dunia yang gelap, melainkan bahwa ia sering kehilangan arah pulang...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Menakar Ketinggian dari Kedalaman Akar

Dalam Thus Spoke Zarathustra (Demikianlah Zarathustra Bersabda), Nietzsche menulis aforisma tentang sebuah perumpamaan yang tajam tentang kejujuran yang mungkin...

Derrida: Menemukan Kebenaran yang Tak Pernah Selesai

Di antara para filsuf abad ke-20, mungkin tidak banyak pemikir yang sering disalahpahami sekaligus berpengaruh seperti Jacques Derrida. Dalam...

Must read

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS,...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you