RefleksiWujud Spiritual, Itulah Kita

Wujud Spiritual, Itulah Kita

-

- Advertisment -spot_img

Pemikiran modern menyangka jika manusia adalah makhluk biologis semata. Manusia berkehendak dan bergerak lebih didasarkan tuntutan alamiah semata. Bahkan dalam pandangan yang lebih ekstrim, kesadaran dan gerak manusia secara mekanis menyerupai robot.

Robot? Kita bisa membayangkan “sosok” ini. Ia adalah benda mati. Yang tak memiliki kehendak dan kuasa bahkan terhadap dirinya sendiri. Ia bergerak karena digerakkan. Ia berperilaku karena karena dituntun oleh sistem yang ditanamkan dalam “dirinya”.

Anggapan pemikiran modern bahwa manusia menyerupai robot yang bergerak secara mekanis sudah lama ditolak mentah-mentah. Manusia tak bisa disamakan dengan robot. Manusia mustahil bisa diperbandingkan dengan “makhluk” yang tidak memiliki kehendak bahkan terhadap dirinya sendiri.

Pada manusia ada piranti suci yang tidak dimiliki robot makhluk manapun di dunia ini. Bahkan menurut Rudolf Otto, pada manusia “ada struktur apriori terhadap sesuatu yang irrasional”. Dialah ruh. Ruh adalah entitas sakral ilahi yang dilesakkan Tuhan yang menjadi pembeda dengan makhkuk manapun.

Ruh adalah “serpihan” Tuhan yang dititipkan dalam tubuh manusia. “Wanafakhtu min ruuhi” adalah penegas bahwa manusia sejatinya adalah makhluk yang dicipta sesuai dengan citra Tuhan.

Ruh-lah yang menegaskan manusia sebagai makhluk spiritual. Ruhlah yang menyebabkan manusia disebut sebagai makhluk yang dicipta Tuhan dalam “bentuknya” yang paling sempurna (fii ahsanittaqwiim). Ruh-lah yang memungkinkan manusia memiliki kecenderungan tidak hanya untuk berbuat baik tapi juga kecenderungan untuk patuh, loyal dan setia kepada Tuhannya.

Puasa ramadhan yang akan kita jalani dengan demikian adalah moment kepatuhan itu. Puasa ramadhan adalah kewajiban yang sengaja diperintahkan sekaligus untuk mengingatkan bahwa manusia sejatinya memiliki pertautan dan ikatan yang mesra dengan Tuhan disebabkan adanya ruh dalam dirinya.

Puasa adalah peristiwa yang mengingatkan bahwa jauh sebelum manusia dilahirkan, manusia pernah mengadakan “perjanjian primordial” (primordial covenant) dengan Tuhan. “Alastu birobbikum? Qooluu balaa syahidna”, inilah bukti perjanjian itu.

Puasa dengan meminjam pernyataan Teilhard de Chardin adalah penegas bahwa “kita bukan wujud manusiawi yang menjalani pengalaman spiritual, tetapi wujud spiritual yang menjalani pengalaman manusiawi”. Allahu a’lam[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS, 2026). Ia hadir diam-diam di tengah keramaian, menyusup ke dalam...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain legendaris yang memenangkan trofi. Namun barangkali, hanya segelintir manusia dalam...

LEO

Di bawah langit Kansas City, barangkali kita tidak sedang menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola biasa, kita sedang mengkhidmati babak-babak...

Humata, Hukhta, Hvarstha

Barangkali tragedi terbesar manusia bukanlah bahwa ia hidup di dunia yang gelap, melainkan bahwa ia sering kehilangan arah pulang...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Menakar Ketinggian dari Kedalaman Akar

Dalam Thus Spoke Zarathustra (Demikianlah Zarathustra Bersabda), Nietzsche menulis aforisma tentang sebuah perumpamaan yang tajam tentang kejujuran yang mungkin...

Derrida: Menemukan Kebenaran yang Tak Pernah Selesai

Di antara para filsuf abad ke-20, mungkin tidak banyak pemikir yang sering disalahpahami sekaligus berpengaruh seperti Jacques Derrida. Dalam...

Must read

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS,...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you