RefleksiHumata, Hukhta, Hvarstha

Humata, Hukhta, Hvarstha

-

- Advertisment -spot_img

Barangkali tragedi terbesar manusia bukanlah bahwa ia hidup di dunia yang gelap, melainkan bahwa ia sering kehilangan arah pulang ketika berada di tengah terang. Sungguh, hari ini kita hidup di zaman yang dipenuhi informasi, tetapi (senyatanya) miskin kebijaksanaan. Terhubung dengan banyak hal, tapi mungkin kita miskin kedekatan dengan diri sendiri.

Di tengah hiruk-pikuk pencapaian dan perlombaan tanpa akhir atas nama popularitas ataupun pengakuan, banyak manusia diam-diam memikul kehampaan yang tidak mampu dijelaskan oleh bahasa sehari-hari. Kiranya, ada sesuatu yang hilang, tetapi tidak tahu apa. Tampaknya, ada kerinduan yang mengendap, tetapi tidak tahu kepada siapa.

Konon, para sufi menyebut keadaan itu sebagai keterasingan dari hakikat diri. Sementara Nietzsche menyebutnya sebagai nihilisme: ketika nilai-nilai lama runtuh, tetapi manusia belum menemukan makna baru yang dapat menopang keberadaannya. Dalam ruang hampa itulah manusia berdiri, bingung antara kebebasan dan kehilangan arah. Namun menariknya, ketika Nietzsche mencari jalan keluar dari situasi tersebut, ia justru menengok dan menggemakan kembali kebijaksanaan kuno yang ia ambil dari ajaran Zarathustra: Humata, Hukhta, Hvarshta (pikiran yang baik, perkataan yang baik, dan perbuatan yang baik).

Tiga prinsip hidup yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan sebuah revolusi batin yang bisa mendobrak. Sebab nihilisme tidak lahir pertama-tama dari dunia yang rusak, melainkan dari cara manusia memandang dunia. Karena itu langkah pertama dimulai dari Humata, yaitu pikiran yang baik.

Pikiran yang baik bukanlah optimisme murahan yang menolak melihat luka dan derita kehidupan. Ia adalah sejenis keberanian untuk memandang kenyataan sebagaimana adanya tanpa tenggelam dalam keputusasaan. Sungguh, ia adalah kejernihan yang mampu membedakan antara fakta dan prasangka, antara kenyataan dan ketakutan yang diciptakan oleh ego. Ketika pikiran menjadi jernih, manusia berhenti memerangi bayangannya sendiri.

Dari kejernihan itulah lahir Hukhta, atau perkataan yang baik. Kata-kata bukan sekadar bunyi atau susunan hurup yang keluar dari mulut. Kata-kata sering disebut sebagai cermin dari lanskap batin seseorang. Lidah yang dipenuhi kebencian biasanya berasal dari hati yang belum berdamai dengan dirinya sendiri. Sebaliknya, perkataan yang baik lahir dari kesadaran yang telah belajar memahami. Ia tidak digunakan untuk mendominasi, melainkan untuk menerangi. Dalam dunia yang semakin cemar dan bising oleh kemarahan, saling menyalahkan, dan saling menyudutkan, perkataan yang baik menjadi bentuk kebijakan dan keberanian yang langka. Seumpama cahaya kecil, kehadirannya mampu menjaga rasa kemanusiaan tetap hidup.

Namun perjalanan hidup dan sejarah manusia tidak berhenti pada kata-kata. Sebab makna sejati selalu menuntut penjelmaan atau pembuktian. Di sinilah Hvarshta menemukan tempatnya: perbuatan yang baik. Segala pemikiran luhur dan ucapan yang tersusun indah akan menjadi omong kosong jika tidak turun dan bermetamorfosa ke dalam tindakan nyata. Bagi Nietzsche, manusia harus menjadi sosok yang mencipta  makna.

Bagi para sufi, cinta harus menjelma menjadi amal dan perbuatan. Baik Nietzsche atau pun para sufi, sepakat dalam satu kesimpulan, bahwa nilai kehidupan tidak ditemukan di langit gagasan, melainkan diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Ketika seseorang memilih berlaku adil saat memiliki kesempatan untuk  berbuat curang, memilih menolong saat bisa berpaling, atau memilih memaafkan saat memiliki alasan untuk membenci, pada saat itulah ia sedang menciptakan makna yang mampu mengalahkan nihilisme.

Tiga langkah yang dikemukakan Nietzsche yang inspirasinya ia ambil dari kebijaksanaan Zarathustra bukanlah perjalanan menuju tempat yang jauh bahkan asing. Senyatanya, ia adalah perjalanan pulang ke pusat diri. Sangat boleh jadi, surga yang dicari manusia mungkin bukan sebuah wilayah di balik dunia seberang sana, melainkan keadaan batin yang lahir ketika pikiran, perkataan, dan perbuatan bergerak dalam satu harmoni. Manusia tidak perlu lagi sibuk mencari cahaya di luar dirinya. Ia cukup  menyadari bahwa selama ini yang dibutuhkan bukanlah menemukan cahaya, melainkan menjadi cahaya itu sendiri.

Dan barangkali di titik itulah  selubung kehidupan tersingkap. Bahwa seluruh pengembaraan yang dikira menuju suatu tempat yang jauh sesungguhnya hanyalah perjalanan memutar untuk kembali kepada diri yang paling hakiki.

Kita mengetuk sejumlah pintu, melewati beberapa musim, dan mengejar banyak bayangan, hingga akhirnya sadar bahwa rumah yang kita cari tidak pernah berada di luar diri. Ia bersemayam di kedalaman jiwa yang telah hening dari kegaduhan ego. “Mengapa engkau begitu terpesona oleh dunia luar, padahal di dalam dirimu tersimpan semesta yang tak terbatas?” Begitu kata Rumi. Ketika manusia berdamai dengan dirinya, ia tidak sedang menemukan sesuatu yang baru, ia hanya mengingat kembali siapa dirinya sebelum dilupakan oleh ambisi, ketakutan, dan ilusi dunia.

Inilah yang oleh para sufi disebut dengan wuṣūl, suatu keadaan ketika seorang hamba sampai kepada kesadaran tentang hakikat dirinya. Bukan karena ia telah menempuh jarak yang jauh menuju Tuhan, melainkan karena segala hijab yang memisahkannya dari Cahaya telah tersingkap. “Aku mencari Tuhan selama tiga puluh tahun; ketika aku menoleh ke belakang, ternyata Dia telah ada di sana sebelum aku mencari-Nya,” begitu kata Abu Yazid al-Busthami.

Maka sangat boleh jadi, rumah yang sejati bukanlah sebuah tempat, melainkan keadaan batin ketika jiwa tidak lagi tercerai-berai oleh keinginan-keinginan yang saling bertarung. Di sanalah manusia menemukan ketenteraman yang tidak bergantung pada dunia. Sebuah gerak pulang yang telah lama menunggu di dalam dirinya sendiri. Allahu a’lam bi-Showab.[]

Previous article
Next article

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Melepas Senja, Menyambut Cahaya

"Selamat ulang tahun". Sebuah pesan melalui WhatsApp sampai di HP saya. "Aku hanya memberimu sebuah kutipan ini dari Rumi....

“The Nones”: Pencarian terhadap yang Sakral di Era Digital

Tahun 1882, Friedrich Nietzsche melalui tokoh “orang gila” dalam The Gay Science melontarkan sebuah kalimat yang mengguncang panggung sejarah...

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS, 2026). Ia hadir diam-diam di tengah keramaian, menyusup ke dalam...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain legendaris yang memenangkan trofi. Namun barangkali, hanya segelintir manusia dalam...
- Advertisement -spot_imgspot_img

LEO

Di bawah langit Kansas City, barangkali kita tidak sedang menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola biasa, kita sedang mengkhidmati babak-babak...

Menakar Ketinggian dari Kedalaman Akar

Dalam Thus Spoke Zarathustra (Demikianlah Zarathustra Bersabda), Nietzsche menulis aforisma tentang sebuah perumpamaan yang tajam tentang kejujuran yang mungkin...

Must read

Melepas Senja, Menyambut Cahaya

"Selamat ulang tahun". Sebuah pesan melalui WhatsApp sampai di...

“The Nones”: Pencarian terhadap yang Sakral di Era Digital

Tahun 1882, Friedrich Nietzsche melalui tokoh “orang gila” dalam...
- Advertisement -spot_imgspot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you