Refleksi"The Nones": Pencarian terhadap yang Sakral di Era Digital

“The Nones”: Pencarian terhadap yang Sakral di Era Digital

-

Tahun 1882, Friedrich Nietzsche melalui tokoh “orang gila” dalam The Gay Science melontarkan sebuah kalimat yang mengguncang panggung sejarah pemikiran modern: “God is dead. God remains dead. And we have killed him,” begitu katanya. Pernyataan Nietzsche ini sering disalahpahami sebagai sebuah maklumat kematian agama dan kemenangan ateisme. Sejauh saya memahaminya, yang disoal Nietzsche melalui pernyataannya ini adalah runtuhnya otoritas simbolik agama dalam kesadaran manusia modern. Tampaknya, Nietzsche membayangkan akan hadirnya zaman ketika manusia tidak lagi menjadikan agama sebagai pusat orientasi hidupnya.

Lebih dari seabad kemudian, ramalan kultural itu menemukan bentuknya dalam fenomena yang dikenal sebagai The Nones.  Istilah ini saya temukan dari tulisannya Hendro Sudarsono yang dimuat di Jurnal BASIS edisi nomor 03-04, 2026. The Nones adalah sebuah pilihan atau sikap yang tidak mau mengidentifikasi diri atau terafiliasi pada agama tertentu. Konon, istilah ini pertama kali muncul dalam frasa yang dikemukakan oleh Glenn M. Vernon di penghujung 1960 an sebagai kategori administratif yang sederhana, namun kini ia berkembang menjadi salah satu gejala spiritual paling penting di abad ke-21. Di berbagai negara, terutama di dunia Barat, jumlah pengikut The Nones terus bertambah. Mereka tidak serta merta menolak Tuhan, tetapi menolak untuk memenjarakan pengalaman religiusnya di dalam tembok-tembok institusi keagamaan.

Kerinduan Spiritual

Dari bacaan saya terhadap artikel Hendro Sudarsono, fenomena ini sesungguhnya tidak lahir dari kehampaan. Ia muncul dari sebuah ketegangan yang telah lama mengendap antara kerinduan spiritual manusia dan cara agama dilembagakan. Banyak orang merasa bahwa agama modern terlalu sering hadir sebagai seperangkat aturan, identitas politik, atau bahkan instrumen kekuasaan, sementara kebutuhan terdalam manusia adalah makna, kedamaian, dan pengalaman akan Yang Transenden.

Di titik ini, kritik filsuf Prancis, Michel Foucault , menemukan relevansinya. Menurut Foucault, institusi modern sering kali berubah menjadi mekanisme disipliner yang mengatur perilaku manusia melalui berbagai bentuk normalisasi. Ketika agama lebih sibuk mengawasi daripada mendengarkan. Gemar menghakimi daripada menyembuhkan, maka sebagian orang akan mencari jalan spiritual di luar pagar institusional tersebut.

Namun, membaca The Nones semata-mata sebagai gejala sekularisasi juga merupakan penyederhanaan yang keliru. Banyak penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka tetap menyimpan minat terhadap spiritualitas. Mereka masih bertanya tentang makna hidup, kematian, cinta, penderitaan, dan misteri keberadaan. Mereka meninggalkan agama sebagai institusi, tetapi tidak selalu meninggalkan pertanyaan-pertanyaan religius.

Di titik inilah, pernyataan seorang teolog Jerman, Paul Tillich, sangat relevan untuk ditampilkan, bahwa menurutnya, “The opposite of faith is not doubt; it is certainty.” Keraguan bukanlah musuh iman. Justru sebaliknya, keraguan sering dipahami sebagai jalan yang lebih jujur menuju kedalaman spiritual dibanding keyakinan yang beku dan tertutup. Banyak kaum The Nones sesungguhnya sedang menempuh jalan pencarian semacam itu, jalan yang penuh pertanyaan, tetapi tetap terbuka terhadap kemungkinan adanya makna yang lebih besar.

Hilangnya Otoritas Tunggal

Kemunculan era digital mempercepat proses ini secara dramatis. Jika pada masa lalu institusi agama bertindak sebagai penjaga gerbang pengetahuan spiritual, maka internet telah meruntuhkan hampir seluruh gerbang tersebut. Hari ini seseorang dapat membaca ajaran Buddha di pagi hari, mendengarkan ceramah seorang sufi pada siang hari, mempelajari filsafat Stoa pada sore hari, dan mengikuti diskusi kosmologi modern pada malam harinya, semua dari layar yang sama.

Kondisi ini mengingatkan kita pada tesis sosiolog agama Peter L. Berger yang menyoal tentang pluralisme. Ketika berbagai pandangan hidup hadir secara bersamaan dalam satu ruang publik, tidak ada lagi otoritas tunggal yang dapat diterima begitu saja. Semua klaim kebenaran harus memasuki ruang dialog dan pembuktian. Agama tidak bisa lagi bertumpu hanya pada warisan tradisi, ia dituntut untuk terus menunjukkan relevansinya bagi pengalaman manusia kontemporer.

Akan tetapi, dunia digital juga menghadirkan paradoks yang menggelisahkan. Ia membuka akses menuju kebijaksanaan, tetapi sekaligus menciptakan budaya distraksi yang tak berujung. Informasi melimpah, namun perhatian semakin dangkal. Koneksi meningkat, tetapi kesepian justru menjadi epidemi baru.

Seorang filsuf berkebangsaan Korea-Jerman, Byung Chul Han, menyebut masyarakat hari ini sebagai the burnout society, masyarakat yang kelelahan karena terus-menerus dipaksa untuk tampil, merespons, dan memproduksi diri. Dalam situasi seperti ini, agama menghadapi tantangan yang sangat mendasar: bagaimana menawarkan keheningan di tengah kebisingan. Kedalaman di tengah kecepatan, dan kontemplasi di tengah budaya yang serba instan.

Jalan Spiritual Sejati

Sesungguhnya, apa yang dicari oleh kaum The Nones mungkin bukanlah kebebasan dari Tuhan atau dari agama, melainkan kebebasan untuk menemukan Tuhan secara lebih otentik. Mereka sedang mencari apa yang oleh sufi besar Jalaluddin Rumi ungkapkan berabad-abad lalu: “Mengapa engkau begitu terpesona oleh dunia ini, padahal tambang emas ada di dalam dirimu?” Dalam versi Rumi melalui pernyataannya ini, pencarian spiritual yang sejati selalu bergerak ke arah kedalaman batin, bukan sekadar kepatuhan lahiriah. Bahkan ditempat lain, Rumi juga menyatakan “what you seek is seeking you” (apa yang engkau cari sesungguhnya sedang mencarimu).

Jika dikaitkan dengan The Nones, pernyataan Rumi di atas sangat menarik karena ia menawarkan perspektif lain bahwa pencarian spiritual tidak selalu identik dengan penolak terhadap agama ataupun Tuhan. Sangat boleh jadi, yang ditolak adalah bentuk-bentuk keberagamaan yang dianggal formal, kaku dan rigid, sementara kerinduan terhadap Yang Transenden tetap hidup. Dalam bahasa Rumi, manusia sering meninggalkan “rumah-rumah” lama bukan karena kehilangan cinta kepada Sang Kekasih, melainkan karena ingin menemukannya secara lebih intim dan autentik.

Akhirnya, sangat boleh jadi, fenomena The Nones tidak harus dibaca sebagai kegagalan agama, melainkan sebagai sebuah kritik yang perlu didengar sekaligus diperhatikan. The Nones adalah semacam cermin yang memperlihatkan bahwa manusia modern masih lapar terhadap yang sakral, tetapi mereka menginginkannya dalam bentuk yang lebih hidup, lebih manusiawi, dan lebih autentik.

Mungkin benar apa yang pernah dikatakan oleh Rabindranath Tagore, bahwa “agama bukanlah sekadar kepercayaan, ia adalah pengalaman hidup yang menghubungkan manusia dengan yang tak terbatas.” Ketika agama terlalu sibuk menjaga batas-batasnya sendiri hingga lupa menghadirkan pengalaman tersebut, manusia akan berjalan keluar. Bukan karena mereka telah kehilangan keterpesonaan bahkan kerinduan kepada Yang Ilahi, melainkan karena mereka sedang mencarinya di tempat lain.

Dan barangkali di situlah makna terdalam fenomena The Nones: bukan lumpuhnya atau matinya spiritualitas, melainkan transformasi cara manusia mengetuk pintu misteri. Sungguh, mereka tidak sedang meninggalkan perjalanan menuju Tuhan, mereka hanya memilih jalan yang tidak sama untuk sampai kepada-Nya.[]

Latest news

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS, 2026). Ia hadir diam-diam di tengah keramaian, menyusup ke dalam...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain legendaris yang memenangkan trofi. Namun barangkali, hanya segelintir manusia dalam...

LEO

Di bawah langit Kansas City, barangkali kita tidak sedang menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola biasa, kita sedang mengkhidmati babak-babak...

Humata, Hukhta, Hvarstha

Barangkali tragedi terbesar manusia bukanlah bahwa ia hidup di dunia yang gelap, melainkan bahwa ia sering kehilangan arah pulang...

Menakar Ketinggian dari Kedalaman Akar

Dalam Thus Spoke Zarathustra (Demikianlah Zarathustra Bersabda), Nietzsche menulis aforisma tentang sebuah perumpamaan yang tajam tentang kejujuran yang mungkin...

Derrida: Menemukan Kebenaran yang Tak Pernah Selesai

Di antara para filsuf abad ke-20, mungkin tidak banyak pemikir yang sering disalahpahami sekaligus berpengaruh seperti Jacques Derrida. Dalam...

You might also likeRELATED
Recommended to you