
“Selamat ulang tahun“. Sebuah pesan melalui WhatsApp sampai di HP saya. “Aku hanya memberimu sebuah kutipan ini dari Rumi. Kau kupaslah sendiri, apa makna di sebaliknya.” Dih…. !
“Setiap pagi Allah memberimu ruh yang baru, maka janganlah engkau bangun dengan hati yang masih tertambat pada senja kemarin“.
Bagi saya, pernyataan yang konon diasalkan pada Rumi itu menyentuh bagian terdalam dari kesadaran manusia tentang waktu, napas, dan awal yang baru. Rumi, dengan radar rohaninya yang sangat peka, sedang mengajak kita melihat tidur dan bangun bukan sekadar rutinitas biologis, melainkan sebuah siklus kematian kecil dan penciptaan kembali.
Ketika kita membuka mata di pagi hari, ada rahasia besar yang sering kita abaikan: “Setiap pagi Allah memberimu ruh yang baru.”
Sekadar menduga apa yang tersirat di balik pernyataan itu, Rumi ingin setiap kita menyadari bahwa hidup ini tidak berjalan secara linier dan monoton. Seumpama bentangan garis lurus tanpa kelokan. Setiap fajar adalah sebuah pembatalan atas masa lalu. Tuhan tidak meminjamkan sisa hari kemarin untuk kita gunakan lagi hari ini.
Sungguh, Tuhan memberikan sebuah kanvas yang benar-benar bersih, napas yang segar, dan detak jantung yang baru. Ini adalah bentuk cinta dan pengampunan paling nyata yang terjadi setiap 24 jam sekali. Bukankah setiap pagi Tuhan mengirimkan embun-Nya untuk membersihkan dedaunan?
Namun, di sinilah ironi manusia yang disentil oleh Rumi melalui pernyataannya di atas: “…maka janganlah engkau bangun dengan hati yang masih tertambat pada senja kemarin.”
Senja kemarin adalah simbol dari segala sesuatu yang telah selesai. Sesuatu yang telah lewat. Entah itu luka, apakah itu kekecewaan, mungkin juga kegagalan, dapat saja penyesalan, atau bahkan kejayaan yang membuat kita jumawa, ponggah dan besar kepala. Maka, ketika kita bangun tidur namun pikiran kita masih sibuk meratapi apa yang hilang di hari kemarin, senyatanya, kita sedang melakukan sebuah kesia-siaan yang tragis. Seolah-olah kita membawa “bangkai” masa lalu ke dalam istana hari yang baru. Kita memenjarakan ruh yang baru ini ke dalam jeruji-jeruji lama yang sudah berkarat.
Dalam bahasa sufi, pesan Rumi adalah sejenis undangan untuk berlatih tentang penerimaan (taslim) dan kehadiran penuh (hudur).
Rumi mengingatkan kita bahwa mengikatkan hati pada senja kemarin adalah tanda bahwa kita belum sepenuhnya percaya pada luasnya rahmat Tuhan yang akan datang hari ini. Hari kemarin sudah milik sejarah. Ia sudah dikubur oleh gelapnya malam. Lalu, mengapa kita harus menggali kuburan itu kembali di saat fajar sedang menawarkan cahaya?
Secara ringkas, kita dapat menyimpulkan bahwa pernyataan Rumi di atas bermuara pada satu kesadaran: Hiduplah di saat ini.
Ruh yang baru membutuhkan ruang yang bersih untuk bertumbuh, mencintai, dan mengabdi. Jika hati kita masih penuh atau tertawan dengan residu kekecewaan kemarin, tidak akan ada tempat bagi keajaiban-keajaiban baru yang mungkin datang menyapa kita hari ini.
Hari kemarin, ataupun masa lalu memang tidak boleh dihapus, sebab boleh jadi, dari sanalah hikmah bertumbuh. Namun, ia juga tidak boleh dijadikan tempat tinggal. Sebuah kenangan adalah guru yang baik, tetapi juga penjara yang buruk.
Maka, setiap kali fajar menyingsing, mungkin kita bisa menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskan jangkar yang mengikat kita pada masa lalu, dan mencoba untuk mengatakan pada diri sendiri: “Hari ini aku baru, dunia ini baru, dan rahmat Tuhanku pun baru.”
Di tempat lain, Rumi pun mengingatkan ikhwal serupa bahwa “kemarin telah menjadi hikmah. Esok masih berupa rahasia. Hari ini adalah amanah. Maka hiduplah sepenuhnya di dalamnya, karena di sanalah Tuhan sedang menemuimu”. Allahu a’lam bi-Showab.[]








