HikmahSana'i dan Harapan Perubahan Jiwa Manusia

Sana’i dan Harapan Perubahan Jiwa Manusia

-

Tahun bersalin tahun, batu-batu keras. Kini telah tersepuh cahaya matahari. Semoga kelak sangguplah batu-batu ini menjadi permata nilam ataupun akik Yaman” [Hakim Sana’i]

Rasanya, pernyataan Hakim Sana’i ini menyimpan kebijaksanaan yang lahir dari renungan panjang tentang perjalanan waktu dan daya ubah kehidupan. Sana’i berbicara tentang “tahun bersalin tahun”, sebuah ungkapan yang menyingkap irama tak terbendung dari waktu yang terus berganti dan tak berhenti melintas. Waktu itu, tak peduli kita sadari atau tidak, membawa segala sesuatu pada proses perubahan. Bahkan yang paling keras sekalipun, “batu-batu keras”, akhirnya tunduk pada kehadiran cahaya matahari, yang dalam simbolik mistik sering dipahami sebagai nur ilahi, sinar rahmat yang mengalir tanpa henti.

Sepemahaman saya, melalui ungkapan di atas, Sana’i hendak mengingatkan kita bahwa manusia, sesulit dan setertutup apa pun dirinya, tetap berada di bawah pelukan cahaya itu. Ia bisa saja keras seperti batu, dingin, beku, bahkan tak peka. Namun, di bawah cahaya, entah berupa ujian, kesabaran, pengalaman, atau limpahan kasih Tuhan, perlahan-lahan ia tersepuh.

Cahaya itu bukan sekadar menerangi, melainkan juga melembutkan, mengasah, dan mengubah. Apa yang tadinya terlihat sekadar sebagai batu keras, yang boleh jadi tampak tak berharga, bisa beralih menjadi permata nilam yang berkilau atau akik Yaman yang indah.

Saya kira, ada optimisme dan harapan besar yang terselip di sini, bahwa setiap manusia mengandung potensi transendental. Bukan hanya untuk berubah, tetapi untuk dimuliakan melalui perubahan itu. Nilai sejati tidak ditentukan oleh “kekerasan” awalnya, melainkan oleh kesanggupannya membuka diri kepada cahaya. Dalam bahasa sufistik yang saya pernah baca, ini adalah perjalanan jiwa, dari ghaflah (kelalaian) menuju ma’rifah (pengetahuan langsung tentang Tuhan). Dari kegelapan kerasnya ego menuju kilau kejernihan hati.

Sana’i seakan menuntun kita untuk tidak meremehkan perjalanan, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Sebab batu pun butuh waktu untuk berubah menjadi permata. Maka, pesan moralnya adalah, jika kita melihat diri penuh keterbatasan, janganlah berputus asa: cahaya terus menyinari, tahun terus bersalin, dan perubahan tetap mungkin terjadi. Begitu pula bila kita menatap orang lain, janganlah terburu menghakimi: mungkin yang kita lihat hanyalah batu, sementara Tuhan sedang memprosesnya menjadi nilam.

Pada akhirnya, ungkapan ini adalah doa yang sekaligus pengingat. Doa agar jiwa kita kelak menjadi permata, dan pengingat bahwa perjalanan itu hanya mungkin bila kita sanggup menampung cahaya. Sebab bukan kerasnya batu yang menentukan, melainkan kesediaannya untuk ditembus dan diproses oleh sang surya. Allahu a’lam.

Tabik.[]

Latest news

“The Nones”: Pencarian terhadap yang Sakral di Era Digital

Tahun 1882, Friedrich Nietzsche melalui tokoh “orang gila” dalam The Gay Science melontarkan sebuah kalimat yang mengguncang panggung sejarah...

Kesepian atau Bersepi-Diri?

Kesepian sering datang tanpa dipilih, begitu menurut Sindhunata (BASIS, 2026). Ia hadir diam-diam di tengah keramaian, menyusup ke dalam...

LEO (2)

Ada pemain-pemain besar yang memenangkan pertandingan. Ada pula pemain-pemain legendaris yang memenangkan trofi. Namun barangkali, hanya segelintir manusia dalam...

LEO

Di bawah langit Kansas City, barangkali kita tidak sedang menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola biasa, kita sedang mengkhidmati babak-babak...

Humata, Hukhta, Hvarstha

Barangkali tragedi terbesar manusia bukanlah bahwa ia hidup di dunia yang gelap, melainkan bahwa ia sering kehilangan arah pulang...

Menakar Ketinggian dari Kedalaman Akar

Dalam Thus Spoke Zarathustra (Demikianlah Zarathustra Bersabda), Nietzsche menulis aforisma tentang sebuah perumpamaan yang tajam tentang kejujuran yang mungkin...

You might also likeRELATED
Recommended to you